|
| Dr Hendri Saparini Econit |
Sebenarnya krisis moneter Amerika itu seperti apa sih?
Kecenderungan dalam 20 tahun terakhir, kapitalisme yang ada di Amerika itu sudah bergeser dari kapitalisme yang produktif menjadi kapitalisme yang spekulatif. Jadi yang semula masih ada real value editnya, dalam beberapa tahun terakhir ini mengarah kepada ekonomi spekulatif yang tidak ada real value editnya. Sehingga tidak heran bahwa kemarin itu terjadi spekulasi tidak hanya di pasar uang tapi juga di pasar komoditas seperti bahan pangan, CPO, minyak dan sebagainya yang itu kemudian dispekulasikan. Sebenarnya dana yang besar itu bukan dana yang riil. Ini seolah-olah mereka punya banyak dana kemudian ditawarkan ke berbagai sektor termasuk sektor riil, termasuk sektor property. Dari situlah dimulai. Saya rasa kalau kemudian terjadi resesi, kolaps, itu bukan suatu hal yang mendadak. Bukan satu kondisi yang tidak diperhitungkan sebelumnya.
Apakah krisis ini akan terus membesar atau bagaimana?
Banyak pihak, termasuk pemerintah terutama, menganggap ini adalah krisis kecil. Saya menulis pertama di 2007, bulan Juli, dan tidak ada yang percaya bahwa tahun 2008 akan ada krisis. Bahkan dengan fakta yang lebih tegas di awal 2008 bahwa tahun ini adalah tahun gelembung yang bisa meledak menjadi hard landing maupun soft landing. Itu pun tidak ada yang percaya. Karena ketidakpercayaan ini maka tidak ada langkah-langkah antisipatif. Padahal kalau dibandingkan dengan tahun 1998, krisis 2008 akan lebih besar magnitudenya dibanding 1998. Karena dari sisi misalnya sumber krisis keuangan itu pada 1998. Saat itu kan hanya masalah depresiasi bank dan diawali di Thailand. Tapi yang terjadi sekarang adalah ekonomi yang lebih besar lagi. Kemudian dari dana-dana hot money yang masuk ke Indonesia, dibandingkan antara 1998 dan 2008, sekarang bisa dua kali lipat. Kita bandingkan dengan struktur industrinya, tahun 1998 kita tidak mengalami deindustrialisasi karena kapasitas terpakainya masih sekitar 85 persen. Sementara sekarang kapasitas terpakai hanya 50 persen bahkan ada yang 30 persen. Kemudian masalah struktural kemiskinan dan pengangguran. Tahun 1996 sebelum krisis, jumlah orang nganggur tidak sebanyak 2008.
Berarti krisis ini jauh lebih besar bagi Indonesia?
Kalau melihat diagnosa tadi maka tidak benar jika dikatakan bahwa krisis ini akan lebih kecil dibanding krisis 1998. Itu pertama. Selanjutnya, pernyataan bahwa krisis bisa dilokalisir hanya di sektor finansial, itu juga tidak benar. Karena ekonomi Indonesia itu terkait dengan ekonomi Amerika tidak hanya dalam sistem finansial saja tapi juga perdagangan. Indonesia akan kena dampak lewat trade linkage maupun financial linkage. Lewat finansial linkage sudah barang tentu kita bicara lewat pasar modal. Pasar uang di Indonesia 65 persen itu adalah dari fund manager asing. Kalau dari sisi perdagangannya (trade linkage), krisis yang terjadi di Amerika itu akan berpengaruh terhadap negara-negara besar lainnya. Celakanya, ekspor kita ke tiga negara besar Eropa, Amerika, dan Jepang, itu 45 persennya. Begitu terjadi perlambatan ekonomi, maka permintaan mereka terhadap produk-produk Indonesia itu pasti akan berkurang. Karena apa? Karena 50 persen produk ekspor Indonesia itu adalah primary product. Jadi kita tidak bisa bersaing di negara-negara lain yang tidak membutuhkan produk primer tadi. Karena yang kita jadikan andalan adalah produk, CPO, karet, tambang, dan sebagainya, yang itu tidak ada value edit yang besar. Jadi ini tidak benar kalau dikatakan krisis ini bisa dilokalisir di sektor finansial.
Ada yang menyatakan krisis ini akan terjadi dalam jangka pendek?
Ini juga tidak benar. Karena Amerika sendiri sudah memprediksi kira-kira 2 tahun. Nah , dampak krisis panjang yang terjadi di Amerika dan negara-negara maju tadi terhadap Negara-negara di luar negara-negara tersebut, sangat tergantung kepada struktur ekonominya dan pilihan kebijakannya. Kalau kemudian Indonesia mengulangi kebijakan yang salah seperti tahun 1998, maka bisa jadi kita akan terkena dampak yang jauh lebih dalam dibandingkan dengan negara tetangga kita, sebagaimana tahun 1998 awal krisisnya dari Thailand, tapi kita jauh lebih terpuruk dibanding Thailand. Kita lebih terpuruk dari Malaysia dan Korea.
Bagaimana seharusnya kebijakan yang harus diambil agar Indonesia terhindar dari krisis ini?
Sebagian masih menganggap, terutama kalangan pemerintah dan pemikir-pemikir liberal, ya beginilah ekonomi itu. Pada saatnya terjadi krisis untuk mencari keseimbangan baru. Kemudian kan recover lagi dan dalam jangka waktu tertentu akan mengalami krisis lagi. Itulah naturalnya seperti itu. Mencari keseimbangan baru. Pertanyaannya, dalam sistem kapitalis seperti ini keseimbangan baru seperti apa yang akan terjadi? Yang kita tahu sistem yang embedded dalam kapitalis itu adalah menciptakan kemiskinan dan kesenjangan. Nanti kalau recover lagi, jangan-jangan recover itu terjadi dengan stopper kesenjangan makin lebar dan jumlah orang miskin makin banyak. Itu yang saya rasa kalau kemudian langkah-langkah yang diambil hanya pada tataran teknis ekonomisnya saja, dengan hanya memperbincangkan apakah ini perbankan dulu yang akan diselesaikan dengan menurunkan giro wajib minimum menjadi 7,5 persen, apakah LPSnya dinaikkan menjadi 2 M, apakah suku bunga akan dinaikkan atau diturunkan, itu tataran yang tidak ada koreksi yang lebih substansial. Itu seolah-olah, ya sudahlah itu kita selesaikan dengan masalah itu. Kurang dana ya kita kasih bailout-lah. Tidak ada pertanyaan lebih dalam lagi.
Pertanyaan lebih dalam seperti apa?
Jangan-jangan ini karena kebijakannya yang salah, seperti liberalisasi di sektor keuangan. Kita sistem nilai tukarnya yang free floating revenue yang harus kita koreksi . Jangan-jangan sistem devisa bebas kita yang harus dikoreksi. Jangan-jangan liberalisasi ekonomi inilah yang menyebabkan kerawanan ekonomi dan kegoncangan ekonomi yang lebih dalam. Inilah pertanyaan dalam tataran kedua. Baru yang ketiga, kita mempertanyakan bahwa sistem ini memang sudah salah. Sehingga kita ada keberanian untuk mengubah sistem ini. Seperti misalnya pada saat ini, hampir banyak kalangan sudah bersepakat bahwa kita tidak boleh menyejajarkan sektor riil dengan sektor spekulatif, sektor produksi dengan spekulasi. Ini sangat berbeda. Dan bahkan, sektor spekulatif itu harus ditiadakan. Ini kan berarti sudah memulai pada pemikiran-pemikiran yang mengharuskan adanya perubahan sistem.
Menurut Anda, apakah pemerintah sudah sampai pemikiran mendasar tersebut?
Sayangnya paradigma yang digunakan dan langkah-langkah yang diambil pemerintah itu masih pada tataran yang paling bawah tadi. Tidak mau mempertanyakan tentang liberalisasi yang sekarang ini terjadi, tidak mau mempertanyakan sistem yang diambil, bahkan tidak mau mempertanyakan bahwa sistem besarnya sendiri yang harus dikoreksi. Itu sama sekali tidak ada. Memang kita menjadi sangat minimal, sementara negara-negara lain misalnya di Amerika Latin, sudah ada sekelompok ekonom yang memiliki bargaining position yang sangat kuat kepada pemerintah, sudah berpikir pada tataran yang lebih tinggi dari kita untuk melakukan perubahan-perubahan yang lebih mendasar. Sayangnya sebagian besar masih berpikiran bahwa krisis ini cukup diobati dengan tambal sulam yang sifatnya teknis ekonomis saja.
Apakah ini karena para banyak ekonom kita 'produk' Amerika?
Ini bukan masalah produk Amerika atau bukan, karena banyak juga dari mereka yang bukan dari Amerika mengemban paradigma yang begitu. Mereka tidak berani mempertanyakan atau mengoreksi sistem ini karena menganggap yang menjadi acuan sistem ekonomi ini adalah tatanan global. Tatanan global yang ada saat ini, itulah yang menjadi referensi menata ekonomi kita. Kalau begitu, ini kan satu kebodohan. Tatanan global itu sendiri tidak jelas dasarnya apa, sementara di situlah kita mendasarkan kebijakan kita. Pemikiran ini kan tidak hanya ada pada pengambil kebijakan, tetapi juga ada pada teman-teman yang ada di DPR, juga ada di akademisi, sehingga seolah-olah tidak ada pilihan lain kecuali kalau tidak kapitalisme, apa lagi? Seolah sudah harga mati, kalau tidak ekonomi global, apa lagi?
Bisa jadi mereka tidak memiliki pilihan lain?
Kemungkinan besar mereka tidak tahu, atau kemungkinan kedua mereka sebenarnya tahu ini tapi tidak mau tahu. Karena memang sistem alternatif lain itu sulit dibayangkan karena tidak ada contoh. Bahwa sekarang semua negara menggunakan sistem kapitalisme, gradasinya saja yang berbeda-beda, kedalaman dan variasinya saja yang berbeda-beda. Berarti memang tidak terpikir oleh mereka. Dan kita lihat kan ada lembaga-lembaga internasional yang menjaga sistem ini agar tetap ada. Bahkan sekarang Bank Dunia dan IMF telah menawarkan utang baru dan untuk mempertahan kebijakan ekononi yang sekarang ada. Terlihat sekali, upaya dari lembaga-lembaga multilateral ini sangat kentara dan berstandar ganda. Karena apa? Karena itu mereka perlakukan itu kepada negara Amerika yang memiliki saham terbesar di IMF dan Bank Dunia. Jadi apapun yang dilakukan Amerika benar, tapi kalau negara-negara berkembang lainnya harus mengikuti konsep mereka (Bank Dunia dan IMF). Saya rasa apa yang disampaikan oleh Joseph Stigliz itu menjadi jelas kan bahwa ikuti apa yang dilakukan oleh Amerika tapi jangan ikuti apa yang disarankan oleh IMF. Jadi betul-betul berbeda saran-saran yang disampaikan oleh IMF dan yang dilakukan oleh Amerika.
Bagaimana dengan krisis Indonesia dikaitkan dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah belakangan?
Kita ini dalam kondisi fundamental ekonomi rapuh. Sekarang pemerintah hanya melihat dari tingkat suku bunga, inflasi, cadangan devisa, dan sebagainya. Mereka tidak mau melihat fundamental ekonomi adalah kemampuan sektor riil untuk menciptakan …tidak mau melihat persoalan kemiskinan, kesenjangan, dan pengangguran. Kita kalau melihat dikotomi fundamental ekonomi dan sosial ini, sangat rapuh. Kalau ini tidak segera ada pagar-pagar yang dibuat oleh pemerintah untuk mengamankan sektor riil Indonesia maka yang akan terjadi adalah keterpurukan yang lebih dalam. Karena kita sudah perhatikan dalam dua minggu terakhir, langkah pemerintah itu tidak ada yang berpihak kepada sektor riil dan berpihak kepada kepentingan masyarakat luas. Kita lihat sekarang, kebutuhan untuk meningkatkan tingkat suku bunga. Itu adalah saran IMF dua bulan yang lalu. Pemerintah sendiri masih yakin bahwa untuk menjaga fundamental ekonomi maka harus tetap menjaga agar dana-dana asing itu tetap masuk. Langkah pemerintah yang kedua adalah dengan mendorong BUMN untuk mem-buy back saham-saham mereka. Juga penyediaan dana 4-10 trilyun rupiah dari pemerintah untuk mem-buy back. Ini untuk menggairahkan kembali sektor saham. Ini adalah langkah-langkah yang tidak tahu permasalahan faktualnya dan tidak memiliki keberpihakan kepada kepentingan masyarakat luas. Karena kita tahu, kalau pasar saham yang 65 persen itu adalah investor asing, berapapun yang disiapkan untuk dimasukkan ke pasar itu, mereka sudah siap untuk mencaploknya. Jadi ini adalah kesalahan besar. Semestinya dana ini digunakan untuk membuat kanal-kanal sehingga dampak terhadap sektor riil ini tidak semakin besar. Bisa kita bayangkan dana 10 trilyun rupiah dari BUMN dan 10-15 trilyun dana pemerintah yang digunakan masuk ke pasar saham digunakan untuk menciptakan lapangan kerja maka kalau pun dana itu hilang, itu sudah menggerakkan ekonomi domestik sebanyak 25 trilyun rupiah misalnya. Tapi ini kan tidak menjadi pilihan. Karena pemerintah menganggap krisis hanya di sektor finansial. Dan selama empat tahun terakhir pemerintah SBY semakin neoliberal sehingga tidak mau menciptakan kebijakan-kebijakan konkret untuk membuka lapangan kerja. Maka kalau tidak meninggalkan paradigma yang lama tidak akan bisa (menangani krisis secara fundamental). Selama neoliberal masih dipegang, sulit kita terhindar dan melepaskan diri dari krisis ini. Ditambahkan lagi keputusan presiden untuk menghilangkan menko perekonomian dan menggabungkannya dengan menteri keuangan. Ini karena pemerintah itu tidak menyadari harus bertangan yang kuat.
Dalam kondisi yang kritis, pemerintah bersikukuh pertumbuhan ekonomi nasional tetap 6 persen. Pandangan Anda?
Ini kan target-target kampanye. Jadi dalam kondisi seperti ini pertumbuhan ekonomi maksimal adalah empat persen sampai 2009 mendatang, karena tidak ada sumber-sumber pertumbuhan yang bisa diandalkan untuk mencapai enam persen. Sangat mengherankan himbauan presiden agar menjaga pertumbuhan ekonomi di atas enam persen. Itu kan tidak ada signifikansinya sebenarnya. Pertama, pertumbuhan yang terjadi selama ini tidak berkualitas. Kedua, pemerintah masih percaya pertumbuhan seperti itulah yang akan menciptakan trickle down effect. Pemerintah sama sekali tidak melihat fakta di lapangan. Dengan pertumbuhan enam persen ternyata banyak masyarakat yang kebutuhan dasarnya tidak tercukupi. Ini yang tidak dimasukkan dalam target-target pertimbangan tadi.
Apkah dengan krisis sekarang kapitalisme betul-betul akan runtuh atau ini hanya kecelakaan dari sistem tersebut?
Ini kan sebenarnya akan bisa runtuh kalau negara-negara lain menyelematkan Amerika dengan membeli obligasi-obligasi yang ditawarkan Amerika. Faktanya negara terbesar cadangan devisanya yakni China telah membantu Amerika sebesar 1,6 trilyun dolar atau 50 persen dari cadangan devisa dunia, itu sebagian besar memegang obligasi Amerika. Kemudian Jepang dan Eropa. Jadi kalau kemudian ini hubungannya masih sama dan mereka tidak mau melakukan koreksi terhadap sistem ini akan recover. Tapi kan ada negara-negara yang dikorbankan untuk menutup mereka. Saya rasa yang terjadi, walaupun memerlukan waktu lama, nanti akan ada recover tadi.
Artinya Amerika masih bisa menggunakan kekuatannya untuk memaksa negara-negara lain membantu Amerika mengembalikan kondisi ekonominya?
Sangat tergantung. Bulan depan ada pemilihan presiden. Kalau yang dilakukan oleh pemerintah Amerika itu memiliki lobi jauh lebih kuat dan soft maka itu (recovery) bisa terjadi. Karena ekonomi dari G-8 sangat terkait. Sekarang yang mempertanyakan sistem ini dan menolak sistem yang diterapkan di Amerika adalah negara-negara berkembang, negara Asia miskin, Negara yang GDP-nya tidak terlalu besar. Sangat mudah bagi Amerika jika nanti ada kepemimpinan yang lebih soft untuk menarik negara-negara maju untuk menye-lamatkan dia.
Ada tidak pengaruh pembentukan kelompok ekonomi baru di Amerika Latin terhadap situasi di Amerika?
Memang ekonomi Amerika Latin keterkaitannya dengan Amerika itu sangat besar. Tapi keterkaitannya yang terbesar adalah dalam sektor riil. Tidak sebesar keterkaitan dengan sektor finansial. Kalau ada negara-negara lain, Timur Tengah, Jepang, dan Eropa, bergabung lagi, maka apa yang terjadi di Amerika Latin tidak akan sebanding. Kecuali ada penolakan dari Negara-negara ini misalnya memprovok dengan membuat mata uang sendiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap Amerika. Kemudian Asia juga memprovok untuk membuat mata uang sendiri. Tetapi tetap saja siapapun yang paling besar, siklus keterpurukan akan terus terjadi.
Ada yang berpandangan krisis global ini adalah permainan Amerika dalam rangka mengeruk uang lebih besar lagi guna mengatasi masalah keuangan dalam negerinya?
Saya rasa, saya sependapat dengan itu. Sebab pada dasarnya ekonomi Amerika itu sudah rapuh. Jadi kalau dia tidak ditolong oleh negara lain pasti akan roboh, bukan untuk menutupi permasalahan ekonomi di dalam negerinya. Triple defisit yang terjadi di Amerika bukanlah suatu yang tiba-tiba.
Lalu sistem alternatif apa yang bisa ditawarkan kepada dunia?
