Sepuluh tahun terakhir, Widyastuti Soerojo tak bosan-bosannya mengurusi permasalahan yang ditimbulkan oleh tata niaga tembakau. Ada saja hal yang membuatnya sibuk dan menyalakan semangatnya. Satu dekade menangani hal yang sama adalah hal yang luar biasa bagi Tuti, begitu ia biasa disapa. ''Soalnya, saya ini pembosan,'' kata dia.
Sejak lulus dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Tuti terkenal sebagai orang yang tak betah berlama-lama bekerja di satu tempat. Tuti yang saat itu menjadi konsultan kesehatan mulai dari reproductive health hingga rational drug use cuma mau dikontrak jangka pendek. ''Alhasil, kalau masih betah, tiap tiga bulan, kontrak diperpanjang lagi,'' kenangnya.
Lantas, apa yang membuatnya betah dan getol menangani carut-marut perdagangan tembakau dan dampaknya bagi masyarakat? Tuti mengaku merasa tertantang. Apalagi, orang bilang ini pekerjaan mustahil. ''Kelompok kecil melawan industri raksasa yang sepertinya didukung pemerintah,'' ujar dia.
Awalnya, di tahun 1997, Tuti lebih sering menggarap kegiatan edukasi masyarakat. Tetapi, kemudian ia sadar kampanye antirokok yang selama ini digaungkan jauh dari efektif. Buktinya, perokok pemula tetap saja tumbuh subur. ''Harusnya, materi kampanye bisa menggugah logika,'' jelas perempuan kelahiran Purwokerto, 22 Maret 1947, ini.
Melengkapi usaha melindungi masyarakat dari dampak perdagangan tembakau, Tuti memprakarsai dibentuknya Tobacco Control Support Center (TCSC). Badan Khusus Pengendalian Tembakau ini berdiri tahun 1997. ''Bersama TCSC, kami mencoba melakukan advokasi,'' kata dia.
Usai menggelar konferensi pers jelang peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2008, Rabu (28/5), Tuti yang mengaku pemalu sempat menolak diwawancarai. Ini bukan kali pertama Tuti melakukannya. Ia mengaku pemalu. Gara-gara sebab yang sama, ia bahkan pernah mengarang alasan agar batal tampil di stasiun televisi. ''Cukup gagasan TCSC saja yang dipublikasikan,'' kata Tuti yang senang menata lay out ruang ini berapologia.
Ia menceritakan sepak terjangnya dalam mengendalikan tembakau, juga kisah hidupnya yang sarat pengalaman. Berikut petikannya:
Saat sebagian organisasi memerangi rokok dengan edukasi masyarakat, Anda justru memilih jalur advokasi. Mengapa?
Saya pikir tak cukup edukasi masyarakat saja untuk menghadapi masalah tembakau. Saya memang tak punya data untuk mengatakan ada konspirasi antara pihak raksasa industri dan pemerintah. Namun, yang jelas, telah terjadi pembiaran, pembodohan, dan eksploitasi berkelanjutan. Produsen rokok kan menjual komoditas yang mengandung 4.000 bahan kimia beracun, 69 di antaranya ialah karsinogenik. Mereka melepas produk yang memberi efek candu. Di Indonesia, perokok tak suka rokok putih impor. Preverensinya nyaris 95 persen, rokok kretek buatan dalam negeri. Obat saja yang sifatnya menolong ada aturannya. Kenapa, kok, rokok tidak? Dipandang dari sudut mana pun, itu tidak bisa dibenarkan. Pemerintah membiarkan hal ini terjadi. Ada indikasi telah terjalin lobi industri karena semua kebijakan menguntungkan pihak industri. Melalui TCSC, kami melakukan advokasi menyangkut kebijakan.
Bagaimana reaksi produsen rokok atas gerakan Anda?
Saya pernah bertemu mereka dalam suatu acara di Departemen Kesehatan. Produsen rokok heran mengapa mereka yang beroperasi dengan izin resmi dan membayar pajak masih dikomplain. Saya katakan, ''Anda tahu produk apa yang Anda jual, kepada siapa Anda jual, target Anda kepada siapa? Hanya nurani Anda yang bisa menjawab, etis apa tidak, bukan saya.'' Ini masalah moral saja. Sebetulnya, substansi dari tembakau adalah zat adiktif. Yang dijual dalam rokok adalah efek adiktif. Ini adalah eksploitasi potensi adiktif pada manusia. Komoditas adiktif ini mengandung 4.000 bahan kimia beracun dan 69 di antaranya karsinogenik. Kunci masalahnya di situ.
Melakoni pekerjaan yang tak mudah, bagaimana strategi Anda agar prosesnya lancar?
Ini pekerjaan berat. Secara logika, tidak mungkin. Melawan industri raksasa dengan kekuasaan yang hampir tanpa batas. Setting-nya berat sebelah. Perjuangan kita yang sangat lemah melawan suatu kekuasaan yang didukung pemerintah. Tetapi, saya yakin gerakan ini akan berhasil jika tidak konfrontatif. Kami tidak ingin membunuh industri rokok. Industri tidak akan gulung tikar sekalipun Indonesia menandatangani Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang menyoal perlindungan konsumen alias calon korban, demand protection. Sejauh ini, dalam mengendalikan dampak tembakau, Indonesia seperti jalan di tempat.
Anda kecewa?
Saya sering merasa lelah karenanya. Tetapi, saya mencoba ikhlas. Tentu, setelah berusaha all out. Saya ini perfeksionis, teman-teman tahu itu. Melalui buku Quantum Ikhlas, saya belajar menerima kenyataan. Kalau memang tak ada lagi yang bisa diperbuat, ya terima saja. Semua kan Allah SWT yang mengatur. Itu juga terjadi atas kehendak-Nya. Lagi pula, saya menjalani pekerjaan ini dengan senang. Kalau tidak, tak mudah untuk melakoni setumpuk pekerjaan pelik dalam satu hari.
Sebagai perwakilan Indonesia untuk tim inti South East Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA), pengalaman apa yang Anda dapat saat menghadiri pertemuan di luar negeri?
Satu-satunya negara yang belum menandatangani FCTC di Asia Pasifik, ya Indonesia. Waduh, saya sering malu kalau menghadiri konferensi internasional. Indonesia selalu di taruh di paling pinggir. Soal pengendalian dampak tembakau, kita kalah sama Vietnam ataupun Laos.
Sejak 1997 hingga 2005 Anda tergabung sebagai konsultan Lembaga Penanganan Masalah Rokok dan kini menjadi salah satu dewan penasihatnya. Bagaimana penilaian Anda terhadap edukasi masyarakat selama ini?
Selama ini mereka hanya mengejar perokok dan menyuluhkan agar mereka berhenti merokok. Mereka berbincang soal bahaya merokok --bisa merusak jantung, paru, memicu hipertensi, kanker, dan membahayakan janin. Tetapi, orang tidak percaya. Itu suatu yang tidak riil bagi mereka.
Mengapa tidak mencoba menggugah nalar mereka. Gugah logika mereka, sadarkan mereka telah dijadikan korban oleh produsen rokok. Sadarkan mereka rokok hanya menjual candu, zat adiktif. Dari 80 persen perokok yang ingin berhenti, hanya dua persen yang sukses. Ini menunjukkan kuatnya efek ketagihan pada rokok. Tunjukkan betapa mereka cuma diperalat oleh produsen rokok. Cara ini jauh lebih efektif untuk menghindari jatuhnya korban baru yakni perokok pemula dan perokok tidak tetap. Tidak untuk mereka yang terlanjur terjebak.
Bagaimana kebanyakan elemen masyarakat memetakan masalah rokok?
Percaya atau tidak, mayoritas masih berkutat di promosi tentang bahaya merokok. Sebatas itu. Padahal, tidak fair jika memposisikan korban saja, tidak difokuskan apa yang membuat mereka menjadi korban. Itu masalah nasional. Saya masih sering diminta menjadi pembicara dengan topik tersebut. Paling, saat acara, saya pelintir saja. Soalnya, inti masalahnya bukan di situ.
Kalau Anda berada satu ruangan dengan orang yang merokok, apa reaksi Anda?
Saya tidak pernah frontal. Saya katakan ini ruang ber-AC. Tapi, mereka terus saja merokok. Saya cuma bisa tutup hidung. Saya kasihan sama mereka yang sudah adiksi.
Anda menyerah begitu saja?
Iya. Saya punya simpati yang cukup besar kepada perokok. Mereka hanyalah korban. Perokok sering bilang merokok itu hak azasi. Tetapi, coba lihat, saat mereka tak mau merokok dan ingin memakai uangnya untuk membayar sekolah anak, mereka tidak bisa. Mereka tak punya hak azasi. Mereka terjebak adiksi.
Seberapa gawat sebetulnya masalah tembakau ini?
Tembakau lebih gawat daripada epidemi malaria sekalipun. Konsumsi rokok itu membunuh satu dari dua penggunanya. Dalam epidemi rokok, agennya adalah nikotin yang membawa serta 4.000 bahan kimia, manusia yang paling rentan --yakni anak dan remaja, pendidikan rendah, orang berpenghasilan rendah-- jadi host-nya, vektornya ialah industri, dan faktor lingkungannya adalah kebijakan.
Kalau malaria, agennya ialah parasit, host-nya manusia, vektornya nyamuk, dan environment-nya sudah ada yaitu kebijakan penanganan malaria. Tapi, nyamuk tidak punya armada promosi, tak punya duit, tak punya kemampuan lobbying. Vektor malaria tidak bisa membawa agennya ke host begitu dihalangi dengan pengasapan, kelambu, dan obat. Sedangkan tembakau, diiklankan gencar, dapat dibeli batangan, dan bisa menjangkau siapa saja, terutama anak dan remaja. Sementara itu, perlindungan terhadap calon korban amat minim.
Tuti pun urung menempuh pendidikan spesialis. Ia memilih untuk praktik dokter umum setelah menyelesaikan pendidikan kedokterannya. Namun, setelah tiga tahun mengelola unit kesehatan di Bank Indonesia, ia bosan. Suatu hari, saat mengantar putri tunggalnya Ananda Aditya Santi ke sekolah, Tuti menatap penasaran gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia yang ketika itu masih berlokasi di Jl Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat. ''Isinya, kok, kakek-kakek semua,'' pikirnya.
Ia tergerak untuk mengambil S-2 di sana. Tuti tak kesulitan mempelajari bidang baru ini. Di pengujung masa kuliahnya, Tuti ditawari untuk menjadi staf pengajar. ''Melihat bahan ajarnya, saya kaget. Kok tidak up to date. Kasihan mahasiswanya nanti. Tapi, komplain saya tak ditanggapi oleh dekan. Saya pilih mundur,'' ujar dia.
Kuliah Tuti di Fakultas Kesehatan Masyarakat sebenarnya adalah upaya meloloskan diri dari harapan-harapan sang ayah. Semasa kanak-kanak hingga remaja, Tuti selalu mengikuti kemauan orang tuanya. Termasuk, ketika akan memilih jurusan di perguruan tinggi. ''Ayah ingin saya masuk kedokteran. Bukan soal uang. Harapannya nanti saya bisa kerja mandiri,'' kenangnya.
Selesai mendapatkan gelar dokter, ayah Tuti menghendaki agar putrinya meneruskan studi spesialis. Jiwa Tuti berontak. Ia memutar otak, berupaya berkelit, namun dengan cara yang tak membuat ayahnya kecewa. Untuk mengecoh ayahnya, Tuti sengaja mencari jurusan yang peminatnya paling banyak, jurusan yang tak mungkin menerima pendaftar nomor buncit. ''Jurusan kedokteran anak peminatnya membludak. Saya sengaja daftar ke sana. Tentu agar tak diterima,'' ujar Tuti tergelak.
Pernikahannya dengan Soerojo di tahun 1975 adalah salah satu jalan baginya terbebas dari harapan-harapan sang ayah atas dirinya. ''Tetapi, lama-lama, saya bosan juga di rumah,'' ujar dia tentang aktivitasnya usai berhenti praktik dokter, sebelum melanjutkan S-2.
Dibesarkan dengan pola asuh yang mendikte, bagaimana Anda memperlakukan anak?
Saya tak ingin mendidik dengan cara seperti itu. Ananda saya berikan kebebasan untuk menentukan pilihan, tentu dengan bimbingan.
Saat ini Anda menjabat sebagai ketua TCSC-IAKMI dan perwakilan SEATCA di Indonesia. Bagaimana keluarga memandang kesibukan Anda di sejumlah organisasi tersebut?
Suami tak pernah komplain. Justru Ananda yang lebih banyak menyadarkan saya. ''Sadar, Ma. Ini nggak kemana-mana, tau. Asal tahu aja ini hari Minggu!'' Begitu katanya saat melihat saya masih mengetik. Dia mengajarkan saya untuk lebih rileks. Suatu ketika, kami nongkrong di kedai kopi. Saya masih asyik SMS-an dengan rekan di TCSC. Dia menyadarkan saya, saat santai harus dinikmati. Saya belajar banyak dari dia.
Bagaimana Anda mengatur hari?
Saya merasa unit waktu yang tersedia sering tak imbang dengan unit pekerjaan yang mesti dilakukan. Tetapi, saya bisa pulang sebelum larut malam. Karena kelelahan, pukul 21.00 WIB biasanya saya sudah tidur. Pukul 02.00 dini hari, saya pasti terbangun. Kadang, saya SMS rekan begitu teringat ada yang penting. Mereka tentu tak langsung membalas. Paling baru dijawab pagi hari.
Selebihnya, saya manfaatkan waktu ini untuk meneruskan hobi membaca. Saya suka sekali buku-buku self improvement. Saya pengunjung tetap MP Book Point dan Toko Buku Aksara. Sering kali sehabis terjaga, saya tak bisa tidur lagi dan paginya langsung beraktivitas. Kalau ingin tidur lagi, saya terpaksa minum obat tidur. (fkr/rol)
Sumber: republika