• Berita
    • Berita Lokal
    • Berita Dunia
    • Berita Ekonomi & Bisnis
    • Berita Teknologi
    • Berita Medis
    • Berita Sport
  • Artikel
    • Studi Islam
    • Info Manca Negara
    • Santai
    • Hukum
  • Opini
    • Special Feature
    • Opini
    • Wawasan Islam
  • Konsultasi
    • Syariah
    • Hukum
  • Wanita
  • Berita Anda
  • Surat Pembaca
  • Video
  • Download
  • Wisata
  • RSS
Home » Opini » Opini » Detail
Mereka Seharusnya Menjadi Pembela, Bukan Pencela! (Risalah Terbuka Kepada Hizbut Tahrir Indonesia) Bagian 6 Tamat
Diposting Rabu, 30-06-2010 | 21:31:43 WIB

Dana dari Amerika untuk jihad Afghan?

Saya ingin menceritakan ini sedikit, yaitu tentang kedustaan bahwa Amerika mengeluarkan uang untuk disalurkan ke jihad Afghan. Inilah sedikit penjelasan untuk mengawali :

Pada saat itu, kebanyakan orang tidak berfikir bahwa sebenarnya kemudahan ini bukan merupakan perwujudan dari kemurahan hati amerika yang patut dipuji. Tujuan pendirian kantor pelayanan Mujahidin disana adalah mengumpulkan dana dari orang-orang Islam dan Arab yang ada di Amerika. Pengumpulan ini memiliki berbagai tujuan, diantaranya adalah pengawasan terhadap para penyumbang dana, pengurangan kekuatan ekonomi mereka, dan dana yang terkumpul disana akan dianggap – setidaknya untuk tujuan-tujuan propaganda – sebagai dana milik Amerika.

( “Bukan… Tetapi Perang Terhadap Islam”, Dr. Muhammad Abbas, hal. 240 )

Mereka mengatakan itu uang mereka (Amerika) padahal itu adalah dana-dana umat Islam Amerika yang disalurkan melalui berbagai jalan. Sebagaimana disebutkan dikutipan diatas, salah satunya melalui kantor-kantor pelayanan mujahidin yang ada di Amerika. Amerika membiarkan kantor-kantor itu berdiri? Benar. Dan itulah keculasan mereka. Dan banyak umat Islam yang tidak tahu kejadian detailnya kemudian ikut termakan propaganda bahwa uang yang keluar dari Amerika adalah dana dari pemerintahnya. Bagi yang menginginkan informasi tentang kantor-kantor pelayanan mujahidin di Amerika, bisa melihat ke keterangan-keterangan Syekh Abdullah azzam yang bertebaran di buku-bukunya seri tarbiyah jihadiyah.

Mengenai Obat Bius dan Taliban

Berikut ini persaksian langsung dari orang yang berkunjung ke Afghanistan dibawah pemerintahan Taliban.

Kita awali dengan kesaksian Mufti Mesir, Dr. Nashr Farid Washil ( majalah Akhiru Sa’ah, edisi 3465 ), dimana beliau mengatakan :

“Ketika kita pergi kesana, kita akan mendapati bahwa realitas Afghanistan berbeda samasekali dari apa yang digambarkan dan disiarkan oleh media massa Barat tentang Taliban dengan berbagai pengekangan, pengungkungan wanita, dan perkebunan ganja. Kami semua sebagai delegasi, semula memiliki kesan kuat di benak kami bahwa Taliban benar-benar telah mengangkat syiar Islam sebagai solusi, tetapi kemudian mereka menanam ganja untuk membiayai gerakan mereka. Media massa barat menyiarkan bahwa mereka mengekang dan melarang kaum wanita dari aktivitas mengajar, mengemudi mobil, dan sebagainya, bahwa mereka begini dan begitu. Tapi, disana terlihatlah fakta yang tak pernah terlihat itu bahwa mereka menanam ganja, melainkan membentuk kelompok-kelompok untuk memberantas tanaman ganja, bahkan benar-benar membakar perkebunannya. Mereka melarang ada satu pohon ganjapun dalam pemerintahan  mereka !

 Adapun kaum wanita, maka kami melihat mereka ada di jalan raya, disepanjang jalan raya. Mereka mengatakan : bahwa apa yang dipublikasikan itu keliru. Yang benar adalah, karena kurangnya sekolah dan gedung sekolah, disebabkan oleh sistem pengajaran yang buruk di negeri kami, maka kami mulai menyiasati keadaan, yaitu bahwa anak laki-laki, khusunya yang tertua akan menjadi penanggung jawab utama dan penting bagi keluarganya; oleh karena itu, kami mengutamakan saudara laki-laki yang paling besar daripada saudara-saudara lainnya, sekalipun mereka juga laki-laki, agar mendapat tempat disekolah. Maka laki-laki tertualah yang paling utama. Jadi permasalahannya bukan perempuan atau laki-laki, melainkan keadaan telah mengatur aktivitas dan sikap kami. Jika keadaan pengajaran membaik, tentu setiap anak perempuan akan mendapat tempat seperti anak laki-laki.

 Sebenarnya kami sangat terkejut dengan keadaan yang disiarkan secara bohong oleh media informasi Barat. Saya mengakui bahwa saya pribadi dulu mempercayai semua pemberitaan menyangkut Taliban, akan tetapi setelah melakukan kunjungan  itu, seluruh delegasi tanpa terkecuali yakin tentang ketidakobjektifan media massa barat dan upayanya untuk menyesatkan seluruh dunia, khususnya mengenai realitas Taliban dan Afghanistan.

Terus terang, saya juga menganggap kunjungan ini seluruhnya bernilai positif, karena dengan kunjungan ini kami mengerti sejauh mana kebohongan-kebohongan informasi yang dipublikasikan oleh media massa barat.

( “Bukan… Tetapi Perang Terhadap Islam”, Dr. Muhammad Abbas, hal. 245 - 246 )

Disini kita lihat bahwa kebohongan media telah demikian parah sebagaimana kita ketahui sendiri. Saya tidak hendak berpanjang-panjang mengenai ini cukuplah kutipan di atas membantah kebohongan-kebohongan yang telah banyak beredar, bahwa tidak satu pohon ganjapun boleh ada didalam pemerintahan Taliban. Lantas kepada yang mengatakan, yang  meyakini, yang menebak-nebak ataupun baru mendengar berita di media massa bahwa Taliban berbisnis obat bius,  saya sampaikan bahwa jika ada dua informasi bertentangan, pasti salah satunya adalah DUSTA. Silahkan lihat dan perhatikan sendiri siapa yang berdusta, semoga Alloh membalas kedustaan dengan balasan yang setimpal. Saya ada beberapa arsip mengenai pernyataan-pernyataan duta besar Taliban untuk Pakistan, yakni Mullah Abdussalam Dhoif, yang membantah berbagai berita bohong mengenai Taliban. Beberapa diantaranya hilang, tapi insya Alloh masih ada beberapa (minimal yang ada di ingatan). Untuk kali ini tidak saya kutipkan.

Apa yang saya paparkan ini  silahkan dibandingkan dengan sumber-sumber lain. Akan dijumpai bahwa hanya sedikit informasi yang benar tentang hal-hal di atas. Demikianlah yang terjadi sehingga saya sarankan “lebih baik menahan lisan daripada berlaku aniaya terhadap saudara seiman”. Masih banyak kejahatan musuh didepan kita dari pada menikam (baca : menimpakan musibah ) saudara seiman di belakang kita. Ada lebih banyak kesalahan / kedustaan musuh Alloh untuk di bongkar dibanding mencoba membongkar sesuatu yang ternyata kedustaan.

Inilah satu keanehan lagi

Satu keanehan buat saya…buku “Bukan…tetapi perang terhadap islam” karya Dr. Muhammad Abbas terbit bulan maret 2004, dan diberi pengantar oleh Ust. Ismail Yusanto (dan Ust. Abu Bakar Baasyir). Sementara tulisan Ust. Farid Wajdi dimuat di Al-Waie edisi November 2003. Dan tulisan M. Iwan Januar dipublikasikan November 2005. Bingung saya, apa pak Yusanto tidak menyampaikan apa-apa yang ada di buku tersebut kepada pak Farid dan pak Iwan Januar? Karena terlihat nyata, informasi dusta itu seperti penyakit yang tidak terobati yang menular dan berjalan selama dua tahun tanpa adanya koreksi, padahal koreksi atau obatnya sudah ada, bahkan pak Yusanto sendiri yang membawa obat tersebut, atau memang kedustaan itu yang diyakini? Atau mungkin tidak dibaca tuntas buku tersebut? Jika memang koreksi itu disampaikan (tahun 2004), tentu tulisan M. Iwan Januar (tahun 2005) tidak akan memuat kebohongan tersebut. Bukankah pak Yusanto ini karib pak Farid di DPP HTI, dan mungkin juga karib dengan M. Iwan Januar. Seharusnya begitu pak Yusanto memberikan kata pengantar pada buku tersebut, beliau menyampaikan koreksi tersebut ke pak Farid, praktis kemudian penerbitan berikutnya ada koreksi, atau minimal sebagai konfirmasi. Tetapi nyatanya tahun 2005 tuduhan keji (penyakit) itu masih muncul. Bahkan awal tahun 2006 sampai juga tuduhan keji itu ke telinga istri saya melalui salah satu majelis HT. Belum lagi kalau dikaitkan dengan berbagai penyatan Syekh Usamah, sebagai contoh : wawancara Syekh Usamah dengan Al-Jazeera itu pada bulan Romadhon 1422 H (Desember 2001M), sementara tulisan pak Farid November 2003, ada banyak selisih waktu bagi pak Farid untuk mengumpulkan bahan tentang Syekh Usamah sebelum menulis dua paragrap tentang beliau yang ternyata isinya tuduhan keji. Ini juga contoh bahwa berita palsu dan bohong ini memang menyebar ibarat ilmu yang menjalar dari guru ke murid, dan saya yakin ada lebih banyak yang menelan ilmu itu. Apalagi orang-orang yang tidak kritis yang baru belajar. Silahkan direnungkan…  

Penutup

Sebenarnya saya merasa ada banyak orang/golongan yang termakan oleh fitnah dan kedustaan ini. Tetapi inilah start point yang bisa saya lakukan.

Sedang bagi para penulis berkewajiban untuk menggoreskan pena-pena mereka dan bagi para tokoh mestilah menggunakan kedudukannya untuk memberi keterangan yang benar….

…Sebagaimana mereka wajib menyatukan barisan dan kalimat serta sikap dalam menghadapi serangan yang dilancarkan oleh kekufuran untuk melawan islam dan kaum muslimin serta bermacam usaha mereka untuk mencoreng paradigma jihad dan mujahidin.

(Pernyataan “Maktab Siyasi Al-Qoidatul Jihad” tgl 7 Rojab 1423 H / 10 September 2002 M)

Karena itu, dengan ini saya meminta dengan resmi, cabut dan hentikan penyebaran semua kedustaan-kedustaan itu. Baik dalam makalah, artikel, majalah, website dan terutama majelis-majelis. Kepada guru-guru yang pernah menyampaikan di majelis-majelisnya, wajib bagi mereka untuk mencabut ucapannya dihadapan setiap orang (murid-murid) yang pernah mendengar. Agar setiap murid tidak ikutan/meneruskan kedustaan atau penyakit tersebut. Wajib bagi mereka mengundang kembali murid-muridnya untuk merevisi ucapannya dan menyampaikan obat dari penyakit tersebut. Adakah jalan lain untuk menghindari gugatan Alloh kelak di hari pengadilan? Setiap pembaca Al-Waie yang pernah membaca kutipan diatas dan meyakini, wajib bagi mereka memperoleh penyampaian koreksinya, demikian juga pembaca Al-Islam dan Hayatulislam.net. Jika ternyata tidak bisa menerima kebenaran dari sini, maka saya hanya bisa menyampaikan bahwa kesombongan, keangkuhan dan ashshobiyah telah menutupi hati anda. Dan kesombongan itu tidak lain adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Jikalau saya banyak menyebutkan keutamaan Mujahidin Afghan dan Arab(dan non Arab)-Afghan disini, bukan berarti saya meremehkan mujahidin lainnya (tidak layak saya melakukan hal tersebut). Bukan berarti mujahidin Palestina, Irak, Khasmir, Chechnya dll itu lebih remeh daripada mujahidin Afghan, tetapi memang tujuan penulisan risalah ini adalah untuk membantah tuduhan keji terhadap mujahidin Afghan dan semua yang terlibat jihad Afghan. Insya Alloh siapa saja yang sedang berjihad dengan senantiasa meluruskan tauhidnya akan termasuk dalam jama’ah Tauhid wal Jihad yang akan senantiasa di tolong oleh Alloh, baik dari musuh-musuhnya maupun dari para pencela.

Inilah renungan bagi mereka yang selalu mencela jihad afghan,

Oleh karena itu saya tidak tahan kalau mendengar ada seseorang yang menjelek-jelekkan jihad Afghan.

(“Runtuhnya Khilafah dan Upaya Menegakkannya”, Abdullah Azzam, hal. 97)

 Dan sesungguhnya keutamaan itu hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang memiliki keutamaan (meskipun saya bukan orang yang memiliki keutamaan), hanya saja saya mengetahui kebesaran dan ketinggian mereka.

 Ini karena saya pernah mengalami ujian dan cobaan dalam perjuangan bersama bangsa-bangsa arab, dan saya juga pernah hidup bersama mujahidin Afghan. Lalu saya bandingkan antara orang yang sabar disini dengan orang-orang sabar yang ada di sana (negeri-negeri arab), antara orang yang melangkah disini (Afghan) dan orang-orang yang berjihad di sana (arab), maka akhirnya saya mendapati kenyataan bahwa adalah sia-sia saya membandingkan antara keduanya, tidak ada bandingannya.

 Tidak ada perbandingannya antara bangsa-bangsa arab (yang tidak mampu bertahan lebih dari tiga jam dalam menghadapi serangan Israil) dengan bangsa yang telah kehilangan apa saja kecuali iman mereka kepada Robb-nya serta tawakal mereka kepada Alloh. Mereka (bangsa Afghan) bersabar selama delapan tahun. Telah berjalan jihad mereka sampai sekarang delapan tahun kurang sebulan. Dari sejak revolusi komunis yang dipimpin Taraqi, jihad ini telah berjalan selama delapan tahun.

 Bom-bom musuh tidak meninggalkan sebuah rumahpun, kecuali ia hancurkan, tidak membiarkan sebuah keluargapun kecuali ia porak-porandakan, tidak menyisakan apapun, tidak membiarkan sebuah rumahpun kecuali ia jadikan panti asuhan dan rumah berkabung. Meski demikian, jiwa mereka tak mau dihina karena tahu harga diri, hati mereka dengan ketinggiannya menembus mega. Hampir-hampir kaki mereka tidak menembus tanah, karena mereka berjalan diatas bumi, meski ruh mereka dan hati mereka tidak berada diatas bumi. Mereka hidup di atas bumi dan jiwa mereka tergantung, sebagaimana ucapan Ali ra, tergantung di tempat yang tinggi.

 Lalu sesudah itu datang manusia yang belum pernah mengenal arti kepedihan dan tidak pernah mengenal kepahitan. Mereka hidup bergelimang kenikmatan, makan minum dilayani oleh pelayan. Mereka memandang bangsa Afghan yang muslim, yang tak mau dihina yang sabar, dengan pandangan melecehkan !

 Kenapa begitu? Karena bajunya lebih bagus dari baju orang Afghan, atau sepatunya jauh lebih baik daripada sepatu orang Afghan, atau makanannya lebih lezat, kasurnya lebih empuk, tempat tidurnya lebih tinggi dari orang Afghan.

 Bukan dengan itu nilai keutamaan jiwa ! Sesungguhnya nilai keutamaan jiwa itu dengan sabar dan amal perbuatan. Jika manusia mengukur derajat mereka dengan nasab, maka nasab itu adalah amal dan perbuatan. Sesungguhnya nasab itu tidak ada nilainya di dunia ini bagi orang-orang yang sidiq, dan di akhirat di sisi Robbul ‘alamin.

 Mereka mengatakan : “Apa sih bangsa Afghan itu? Apa sih nilai bangsa tersebut? Ya saudaraku kenapa engkau memperhatikan bangsa tersebut, demi Alloh mereka tidak pantas mendapat perhatian !”. (Ini adalah perkataan orang-orang murjifin, yang menyebarkan berita-berita yang membuat orang antipati terhadap bangsa Afghan.)

 Dan sayapun berpaling dari mereka (yakni orang murjifin), karena mereka tidak berhak mendapatkan sesuatu dari kita kecuali ratapan tangis belaka. Mereka demi Alloh, jika kamu melihat mereka, maka tangisilah mereka, karena mereka telah hilang dari dunia ini.

(“Tarbiyah Jihadiyah jilid.1”, Abdullah Azzam, hal 181-183).

Bagaimana mereka tetap hidup? Kalau rudal-rudal yang diluncurkan ke bumi Afghanistan cukup untuk membakar lebih dari lima setengah juta jiwa. Namun ternyata rudal-rudal itu hanya membunuh satu setengah juta jiwa saja. Ini adalah suatu perkara yang betul-betul ajaib.

 Sungguh bangsa Afghan telah banyak berkorban, dan masih tetap akan berkorban. Setiap empat menit ada yang syahid, setiap menitnya ada yang berhijrah, dan setiap duabelas menitnya ada yang dipenjara. Kendati demikian mereka tetap teguh melanjutkan perjalanan jihad yang berbarokah itu. Dan akhirnya mereka sampai pada kesudahan yang kita lihat sekarang ini. Setelah mereka merontokkan hampir tiga ribu pesawat tempur Rusia, menghancurkan empat belas ribu tank dan kendaraan lapis baja lainnya, membunuh limapuluh ribu tentaranya, dan mencederai serta membunuh sekitar seratus ribu orang-orang komunis Afghanistan. Setelah Rusia mengumumkan dengan terpaksa bahwa mereka akan menarik mundur pasukannya dari wilayah Afghanistan.

(“Tarbiyah Jihadiyah jilid.2”, Abdullah Azzam, hal 223)

 Sungguh telah turun bermacam-macam karomah di Afghanistan, janganlah kalian beranggapan bahwa karomah tersebut turun demikian saja, namun karomah itu turun setelah mereka memberi apa yang dapat mereka berikan dan korbankan serta mempersiapkan segala kekuatan, hingga tidak tersisa lagi anak panah di busurnya.

 Adalah suatu kehendak Alloh ‘Azza wa Jalla yang memberikan kemuliaan mujahidin Afghanistan dengan mendatangkan bagi mereka karomah dari langit. Dengan karomah yang membuat kemuliaan mereka selama menempuh jalan jihad….

(“Tarbiyah Jihadiyah jilid.2”, Abdullah Azzam, hal 224)

 …Dan ini tidak terdapat pada masyarakat Afghan. Mengapa demikian?Oleh karena bangsa Afghan adalah seperti bangsa lain pada umumnya, dalam masyarakat mereka juga terdapat segala macam aib/cela. Namun beda antara kita dengan mereka adalah : mereka adalah bangsa yang menolak kehinaan pada diennya, dan menolak dihinakan (oleh musuh-musuhnya). Sedangkan kita adalah bangsa yang memiliki banyak cela dan rela dihinakan oleh musuh-musuh kita. Mereka menolak membayar berbagai upeti kepada orang-orang kafir lantaran (menjaga) izzah, kemuliaan dan kehormatannya, sedangkan kita melakukannya. Inilah perbedaan antara kita dengan mereka. Maka janganlah kalian ukur diri kalian dengan bangsa Afghan; atau mengukur bangsa Afghan dengan diri kalian.

(“Tarbiyah Jihadiyah Jilid 8”, Abdullah Azzam, hal. 88)

 Masuklah kalian kedalam medan pertempuran dan lihatlah apa yang sedang dilakukan Mujahidin. Kemudian setelah itu putuskanlah, apakah kalian mampu memikul sebagian beban mereka? Apakah kalian mampu hidup sebulan saja sebagaimana kehidupan mereka? Sesungguhnya kalian tidak mampu mengerjakan yang demikian itu.

(“Tarbiyah Jihadiyah Jilid 1”, Abdullah Azzam, hal. 149)

Wassalaamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh.

Tamat

Oleh : Sam Fadil A
Jl. Dago Asri III no. J2, Komp. Istana Dago, Bandung
Email : fadil.ar@gmail.com
0818220921 / 08886046959  

 

 

 

Catatan :

  1. Saya tidak tahu apakah Hizbut Tahrir respek terhadap Syekh Abdullah Azzam, mengingat ada tulisan dari Hizbut Tahrir yang menjadikan Syekh Abdullah Azzam sebagai tertuduh, yaitu dalam artikel “Koreksi atas Buku WAMY dan derivat-derivatnya” ditulis oleh Fahmi Amhar dan dimuat di www.hayatulislam.net. Adapun dari saya, saya pernah meminta konfirmasi dan bukti bahwa Shiddiq Amin adalah nama lain dari Syekh Abdullah Azzam melalui tulisan saya “Dua dari Seribu Kerusakan” sebagaimana telah saya sebutkan diatas. Konfirmasi itu malah seingat saya masuk ke level DPC HTI Bandung, termasuk juga ke redaksi hayatulislam,net saya juga telah melayangkan permintaan bukti, tetapi hingga hari ini saya tidak pernah menerima jawaban atas permintaan saya itu. Oleh karena itu saya tidak mau tulisan saya ini bernasib sama seperti tulisan saya “Dua dari Seribu Kerusakan”. Setahu saya, dari sekian buku yang ada di saya, tidak pernah Syekh Abdullah Azzam menggunakan nama pena, nama samaran atau nama palsu dsb didalam buku-bukunya.
  2. Saya menggunakan kata “tuduhan keji” dalam rangkaian kalimat-rangkaian kalimat saya bukan karena ingin melebih-lebihkan tetapi memang begitulah keadaannya menurut saya. Dalam pandangan saya tuduhan ini hampir sama dengan tuduhan kufur, fasik, rusak aqidahnya dll. Hanya orang buta mata dan hatinya, serta tuli yang tidak tahu bahwa amerika dan inggrislah negara penopang israel di bumi palestina. Dan ini telah berlangsung puluhan tahun yang lalu, bahkan sebelum Syekh Usamah lahir. Lantas bagaimana mungkin seorang muslim bisa memberikan wala’-nya kepada amerika dan bahu membahu bersamanya? Ketika dia bahu membahu bersama amerika, kemana dicampakkan aqidah wala’ wal baro-nya? Apakah ketika itu dia bisa melupakan sejenak penderitaan muslim palestina dan bekerja sama dengan orang yang menghisap darah mereka? Tuduhan ini sama dengan melontarkan perkataan kepada mereka : “aqidahmu rusak!!!”. Satu dari sekian pembatal keislaman adalah bekerjasama dan tolong menolong dengan kaum yang memerangi umat islam. Jadi tuduhan itu dekat sekali dengan perkataan : “batal keislamanmu!”. Silahkan direnungkan.

 

 

Download Artikel Ini Full Versi PDF <<<< Klik Disini




Tweet

Top View

  • Kondom dan Coklat Dalam Bingkisan Valentine di ...
  • Modus Pemurtadan, Kenalan di Facebook, Kabur, ...
  • Warga Yahudi Amerika Merasa Dihina dengan Iklan ...
  • Hingga Masjid di London pun tak Sanggup Menampung ...
  • Polisi Amerika Kini Pesan Senjata dari Produsen ...
  • Said Aqil Kembali Serang 'Wahabi'
  • Amir Imarah Islam Kaukasus: 'Jangan Bunuh Warga ...
  • Pemimpin Milisi Anti-Taliban Tewas dibom
  • Muslimah Inggris Belajar Beladiri
  • Ratusan Polisi New York yang Selamat Pada Serangan ...

Latest Post

  • Lawan Hari Valentine Dengan Gerakan Menutup Aurat
  • Malaysia Tahan Pria Saudi Penghina Nabi Muhammad
  • Uskup Agung Ortodoks Romawi Mengecam Zionis ...
  • (Opini Warga Suriah) Bagaimana Nasib Ummat Islam ...
  • Kondom dan Coklat Dalam Bingkisan Valentine di ...
  • Aktifis Islam Tolak Pemogokan Massal di Mesir
  • MUI Minta Pertandingan Bola di Tangerang Distop
  • Polisi Dukung Demonstran dalam Unjuk Rasa di ...
  • 60 Persen Koruptor di Indonesia Adalah Pegawai ...
  • Ulama NU Aceh Tegas Haramkan Valentine Day, MUI ...

Advertising

Copyright ©2012 MuslimDaily. All Rights Opened
About | Contact Us | Info Iklan | Privacy Policy | Site Map | Banner | Term of Use | Donate Us | Rss Feed