HANYA KEPADAMU YA ALLAH, KAMI BERTAWAKAL!
Sebuah catatan dari ledakan JW. Marriot dan Ritz Carlton Hotel-Jakarta
Jumat pagi yang indah, penulis dikejutkan oleh pemberitaan salah satu stasiun televisi yang menyiarkan tentang kejadian dua ledakan (bom?) yang menimpa dua Hotel berbintang lima di Jakarta.
Awalnya, penulis hanya menganggap bahwa siaran tersebut hanya merupakan siaran review tentang aksi teror di Indonesia, atau barangkali ada tersangka lain yang tertangkap dan televisi menyiarkan kenangan peristiwa peledakan di tanah air.
Namun, setelah beberapa menit berlalu, penulis tertegun dengan gambar-gambar dan keterangan yang disampaikan oleh sang pembawa acara, yang semakin mempertegas bahwa setengah jam sebelum acara tersebut, telah terjadi ledakan di dua hotel di Jakarta.
Informasi pun berkembang dengan sangat cepat lagi simpang siur, diawali dengan anggapan bahwa bom ini disebabkan oleh genset yang meledak di komplek restoran Ritz Carlton, hingga isu terorisme yang kembali mencuat setelah lima tahun tak terdengar lagi.
Korban pun berjatuhan, tercatat 9 orang tewas dan belasan lainnya luka-luka. Korban yang tewas nyaris seluruhnya WNA, yang berasal dari Amerika, Australia, New Zealand dan Eropa. Maklum, kedua hotel tersebut memang menjadi anjungan favorit bagi kaum ekspatriat di Jakarta apalagi menjelang kedatangan klub sepakbola Manchester United ke Indonesia.
Anehnya, beberapa saat setelah ledakan, CNN-Amerika secara gegabah mengungkap hasil analisa Dr Carl Ungerer dari Australia dan Noor Huda Ismail, direktur sebuah LSM yang didanai asing di Jakarta, yang ujung-ujungnya menuduh para alumni penjara perang teror kembali beraksi. Sayangnya sumber informasi yang sama sekali tidak berdasarkan saksi-saksi lapangan tersebut diamini dan dimuat di detik.com
Fenomena tersebut, membuat penulis sedikit tertegun sembari berpikir, “Ada apa lagi ini?” Sebagai editor sebuah majalah yang diterbitkan untuk menegakkan syariat Islam, penulis berpikir bahwa kejadian ini sangat mungkin mengarahkan opini masyarakat untuk semakin antipati pada jamaah-jamaah dakwah tauhid. Sekaligus, mengingatkan kembali pada kejadian penangkapan ratusan aktivis muslim pada tahun-tahun 2002-2009.
Apalagi, laporan peristiwa ini kemudian ditutup dengan pidato resmi kenegaraan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang—meskipun menunjukkan alternatif tersangka lain, berupa ancaman politis terhadap dirinya—tetap mengarahkan tuduhannya pada aksi teror yang “telah kita kenal sebelumnya.”[1]
Sebuah analisa
Padahal, realita di lapangan dan meja pengadilan menunjukkan bahwa—kalau pun tuduhan terorisme yang ditimpakan kepada mereka benar—para aktivis Islam (yang dituduh teroris) itu kini sudah tidak memiliki “apa-apa” lagi, dan tidak lagi memiliki sarana-sarana militer yang dituduhkan itu, sehingga hanya mampu berdakwah menyebarkan kebenaran Islam.[2]
Hal yang lebih aneh lagi, Kepolisian, pihak keamanan dan seluruh aparat yang terkait dengan pengamanan pasca peledakan tersebut, sama sekali tidak menyinggung atau memeriksa Behrnard Lomban seorang Perwira Menengah TNI yang juga ketua Persepakbolaan Nasional yang bertanggung jawab atas pengamanan Hotel yang akan dijadikan tempat menginap Manchester United tersebut.
Uniknya, pada pidato kenegaraan yang disiarkan secara serentak di seluruh stasiun TV tersebut, SBY begitu tampak ingin mengambil keuntungan dari peristiwa ini dengan mengungkap ‘laporan-laporan’ mentah intelijen yang belum dipastikan kebenarannya berupa foto dan film. Padahal, telah jelas bahwa laporan-laporan intelijen tersebut tidak bisa digunakan sebagai fakta hukum.
Apalagi, di jaman modern ini begitu banyak pihak yang bisa membuat foto-foto semacam itu dengan menggunakan program-program Desktop Publishing. Bagi mereka yang melihat tayangan SBY tersebut dengan kepala jernih—terutama para ahli psikologi massa—pastilah akan merasakan adanya suasana dramatisir dan politisasi atas tragedi kemanusiaan tersebut.
Hal ini sulit dipungkiri karena SBY memang sangat ahli dalam mengolah emosi massa, suatu keahlian yang memang pantas dimiliki oleh kader terbaik Akademi Militer Nasional dan mantan Kepala Staf Teritorial TNI yang bertugas mengamankan negara dengan cara ‘halus’.
Telah jelas bahwa pada perang teror di era 2002-2004 yang lalu, kekuatan thaghut dan munafikin Indonesia, telah berhasil menghancurluluhkan kekuatan materiil gerakan dakwah wal jihad di Indonesia. Sehingga, sangat tidak mungkin mereka mampu melakukan hal peledakan-peledakan semacam itu atau foto-foto pelatihan militer itu.
Dan pada hari ini, ketika kami mencoba bangkit dengan tenaga yang hanya berupa pemikiran dan lisan, untuk memberikan pengertian kepada umat tentang apa yang kami perjuangkan…kekuasaan thaghut yang lemah lagi pengemis (kepada asing) itu kembali berupaya memfitnah dan menghancurkan sisa dakwah tauhid yang masih ada di Indonesia ini. Dengan imbalan dan dukungan dana, opini serta pemberitaan dari CNN, Australia, Amerika dan sekutu-sekutunya…
Akan tetapi, kami tahu bahwa kekuasaan mereka yang lemah lagi hina itu, tidak akan mampu mengalahkan kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa. Sesungguhnya, ketika mereka membuat tipu daya…maka Allah juga tengah membuat tipu daya kepada mereka! Sehingga, apapun bentuk makar yang mereka rencanakan, justru akan berbalik kepada mereka dengan lebih menghinakan…
Ya Allah! Hanya kepada-Mu kami bertawakal…Sesungguhnya kekalahan kami dalam perjuangan tidak lebih dari pembersihan-Mu atas kesalahan-kesalahan yang kami lakukan di masa lalu.
Ya Allah! Kami mohon kepada-Mu pertolongan dan kekuatan, serta jadikanlah kami kaum yang shiddiq dan amanah dalam memikul beban syariat-Mu.
Ya Allah! Ampunilah kami jika kami tersalah…dan jangan Engkau bebani kami dengan segala sesuatu yang kami tidak mampu untuk memikulnya
Ya Allah! Selamatkan aqidah dan manhaj kami, agar tidak terlepas dari diri kami dan selamatkan kami dari kesyirikan dan menyekutukan-Mu
Ya Allah! Kuatkanlah kesabaran kami dan menangkanlah kami dari orang orang kafir itu!
kiriman Abu Haidar
[1] “…telah kita kenal sebelumnya” merujuk pada perkataan SBY pada jumpa pers pukul 14.00 tanggal 17 Juli 2009, situs tvone.com memberi keterangan pada kalimat tersebut dengan Jamaah Islamiyah.
[2] Untuk ini, SBY sendiri telah mengakui dalam drama pidato kenegaraannya bahwa dirinya melihat bahwa POLRI telah berhasil merampas ‘simpanan’ bahan-bahan peledak milik ‘teroris’ tersebut.