Tindakan keras, brutal dan berdarah oleh pemerintah komunis China terhadap Muslim Uighur di Turkistan Timur atau yang juga dikenal dengan Xinjiang tidak dapat ditoleransi lebih lama lagi.
Menurut laporan dari daerah terpencil dan terisolasi di wilayah mayoritas muslim tersebut, aparat pemerintah komunis China masih melakukan penyerangan terhadap rakyat muslim Uighur, membunuh pria, wanita dan anak-anak.
Beberapa laporan menyebutkan sebuah pembunuhan terencana termasuk hukuman mati tanpa pengadilan sebagaimana jumlah korban jiwa yang terus meningkat. Hal ini membuat pemerintahan kafir komunis China menutup akses telephon dan layanan internet, sebagai usaha untuk menceah tersebarnya berita kekerasan ini ke seluruh dunia.
Puncak dari kekerasan tersebut meletup saat kerusuhan di ibukota provinsi, urumqi pada tanggal 5 Juli yang lalu, beberapa hari setelah 2 orang etnik Uighur terbunuh oleh pekerja dari etnik Han China di daerah Shauguan, Rpovinsi Guangdong.
Akan tetapi tanggal 6 Juli sehari setelah kerusuhan, pemerintah komunis hanya menyebutkan bahwa korban jiwa dalam kerusuhan tersebut 156 korban jiwa dan 800 orang terluka.
Hampir separo dari 20 juta penduduk Xinjiang adalah etnik Uighur yang mana mereka adalah pemeluk Islam, separahnya lagi adalah etnis han yang merupakan etnis terbesar di China.
Muslim Uighur seringkali melakukan protes atas tindakan pemerintah yang diskriminatif dan penyiksaan yang sistematis. Hal ini dimaksudkan pemerintahankomunis untuk melenyapkan identitas keagamaan dan kebudayaan dari muslim Xinjiang, bahkan berupaya untuk membersihkan etnis Uighur. Dan biasanya pemerintah China akan merespos aksi protes ini dengan tekana yang berdarah sebagaimana jelas terlihat pada kejadian terakhir ini.
Pada era sebelumnya, tahun 1962 di bawah rezim kejam Mao Tze Dong, puluhan ribu muslim Uighur dan etnis muslim Kazakztan terusir hingga masuk wilayah bekas negara uni soviet tersebut.
Pada tahun-tahun berikutnya, pasukan keamanan China terus melakukan penggerebekan terhadap masjid dan rumah-rumah dengan brutal serta menangkap banyak anggota dua organisasi pendudukung pembebasan Uighur yakni East Turkistan Independence Movement dan the East
Turkistan Islamic Movement. Selain tiu kebebasan HAM dan berbicara pun terbelenggu sehingga tidak ada kemajuan di wilayah tersebut.
Umat Islam di seluruh dunia mempunyai kewajiban agama, moral dan kemanusiaan untuk membantu saudara-saudaranya yang tertindas di Turkista Timur. Umat Islam sebagaimana Nabi Muhammad pernah mengatakan bahwa umat Islam tidak boleh membiarkan muslim lainnya tertindas.
Sayangnya, negeri Islam dan umat Islam tidak banyak berbuat dalam menghadapi kekerasan di Turkistan Timur.
Di Turki, Inggris dan India telah banyak unjuk rasa solidaritas dilakukan, namun dunia Arab belumlah beraksi atas indakan berdarah ini.
Berbagai cara untuk melakukan demonstrasi bisa dilakukan umat ISlam di berbagai penjuru dunia, terutama di depan kedutaan besar China. Perdagangan dengan China yang dilakukan lebih dari 50 negara Islam yang berniali lebiah dari seratus milayr dollar per tahunnya dapat menjadi senjata ampuh untuk melakukan aksi boikot produk-produk China.
Untuk tingkat individu, pengguna internet muslim bisa menyampaikan pesan solidaritasnya kepada berbagai jaringannya untuk mengetuk hati umat Islam yang lain agar lebih peduli kepada saudara-saudaranya di Turkistan Timur.
Liga Arab dan Organisasi KOnfrensi Islam (OKI) harus lebih lantang bersuara kepada pemerintah China dan mengirim utusan untuk segera menghentkan kekerasan terhadap muslim Uighur. Singkatnya, umat Islam seluruh dunia harus tetap melakukan berbagai usaha untuk mengurangi penderitaan yang selama ini dialami muslim Uighur. (muslimdaily.net/dkr/iol)