Islam dapat menjadi jalan yang signifikan untuk mengurangi korban dari kebiasaan buruk yaitu, merokok, demikian pendapat yang bermunculan dari konfrensi anti tembakau terbesar di Mumbai.
Yahya Ibrahim Mula Husain, seorang oncologis dari Irak menyatakan bahwa Islam adalah sarana yang sangat kuat, demikian kutip IOL dari Indo-Asian news Service (IANS), Kamis 12 maret di Konfrensi anti-tembakau/World Conference on Tobacco OR Health (WCTOH) di Mumbai India.
Hussain juga menjelaskan keprihatinnanya bahwa penduduk negara Islam mempunyai kebiasaan yang buruk soal rokok.
Indonesia, misalnya sepertiga penduduknya yang berjumlah 230 juta adalah perokok (sumber WHO). Di Malaysia, 21,5% orang dewasa juga perokok, menurut survai tahun 2006.
Yang cukup mencengangkan adalah 35-40 % orang dewasa di Arab Saudi adalah perokok, sementara di Mesir 60% pria dewasa adalah perokok.
Hussain juga yakin bahwa pembelajaran AL Quran dan Hadist yang benar dapat mengurangi angka kecanduan rokok. Menurutnya, para Ulama memiliki peran penting dalam mengani masalah ini. Dengan menyatakan masalah rokok adalah sangat bertentangan dengan Islam.
Meskipun tidak ada dalil langsung yang mengharamkan rokok, akan tetapi kebiasaan yang belum muncul saat ajaran Islam datang ini dinyatakan haram oleh sebagian besar ulama. Para ulama menyandarkan hal ini pada hadist Nabi yang menyatakan bahwa orang Islam harus menghindari hal-hal yang membahayakan.
Paling tidak, 6 juta orang mati tiap tahun karena rokok.
Yahya Ibrahim Mula Husain ingin menumbuhkan kesadaran kepada para ulama untuk mengkampanyekan mengenai permasalan keharaman rokok, karena masih banyak juga ulama yang mengijinkan rokok.
(muslimdaily.net/rmd/iol)
