Karen Agustiawan, Direktur Hulu PT Pertamina, akhirnya dipercaya memimpin Pertamina. Ia menggantikan Ari H Soemarno. Sementara posisi wakil direktur utama dipercayakan kepada Omar S Anwar, Presdir Rio Tinto Indonesia.
Pelantikan petinggi Pertamina itu dilakukan Kamis (5/2) di Kantor Kementrian negara BUMN. Dengan terpilihnya Karen dan Omar, maka berakhir sudah spekulasi tentang siapa yang akan memimpin BUMN terkaya itu.
Namun demikian, berbagai komentar miring bermunculan setelah penunjukan Karen dan Omar tersebut. Ada yang bilang, Amerika berada di balik direksi baru Pertamina tersebut. Apalagi, selama ini Karen sangat dekat dengan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro yang disebut-sebut condong ke Amerika. “Memang, karena dari dulu kan bonekanya Purnomo,” kata sebuah sumber.
Benarkah? Entahlah. Yang pasti, wanita kelahiran Bandung 50 tahun silam itu memang bukan orang asli Pertamina. Karirnya berawal sebagai Commercial Manager for Consulting and Project Management Halliburton Indonesia. Halliburton merupakan perusahaan jasa peminyakan dari Amerika Serikat. Petinggi-petinggi pemerintah Bush seperti wapres Dick Cheney adalah eks petinggi Halliburton.
Baru pada 2007 ia masuk ke Pertamina sebagai staf ahli Direktur Utama Pertamina Bidang Hulu Pertamina. Pada Maret 2008 ia menggantikan Sukusen Soemarinda sebagai Direktur Hulu Pertamina.
Aroma politik dalam pemilihan direksi Pertamina memang sangat kental. Pencopotan Ari Soemarno, misalnya, dinilai tidak didukung dengan alasan yang kuat. Secara manajerial, Ari dinilai lebih transparan dibandingkan dengan direksi sebelumnya.
“Pergantian itu dilakukan justru pada saat upaya reformasi yang lebih transparan dan tidak kompromi dari perseroan,” kata Ismet Hasan Saputro, Ketua Masyarakat Profesional Mandani.
Hal senada juga dikatakan oleh Tjatur Sapto Eddy dari PAN dan Zulkieflimansyah dari PKS. Mereka mengaku kaget dengan pencopotan Ari Soemarno ini. Sebab, dalam RUPS Januari lalu, kinerja direksi Pertamina dinilai sangat baik oleh pemegang saham.
“Penunjukan Ari Soemarno sebagai Ketua Pakta Antikorupsi BUMN sebenarnya diharapkan dapat mengubah citra buruk Pertamina selama ini,” kata Tjatur.
Terkait dengan pergantian direksi Pertamina, sebuah sumber mengatakan bahwa Ari dicopot karena ia sangat dekat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Itu sebabnya, pergantian direksi Pertamina sengaja dilakukan saat JK berada di luar negeri.[rofx/hti]