Sekilas Mengenai Islam Di Honduras

Ketika gereja mendominasi langit di Honduras, sebuah rumah ibadah berwarna biru langit di barat laut kota San Pedro Sula, dan satu dari dua masjid yang terdapat di negara Amerika tengah itu, menarik beragam umat Muslim dari jarak yang  jauh setiap minggunya.

“Kami biasa shalat (jamaah) di rumah dekat rumah sakit,” kata Arnaldo Hernandez, nelayan asal Garifuna, kepada Atlas Obscura setelah menunaikan shalat Jumat, demikian lansir aboutislam.net, Rabu 11 April.

Hernandez mengemudi tiga jam dari rumahnya di kota pantai La Ceiba untuk menghadiri shalat Jumat.

Dia masuk Islam dari agama Kristen 26 tahun yang lalu, namun kini bangga menjadi seorang muslim.

Selama bertahun-tahun, Honduras adalah satu-satunya negara Amerika Latin tanpa masjid — terlepas dari fakta bahwa hingga 25 persen penduduk San Pedro Sula adalah keturunan Arab.

Sekarang, ada dua masjid di Honduras, di San Pedro Sula, dan yang lebih kecil di ibu kota Tegucigalpa.
Menurut laporan Pew Forum tahun 2009, umat Muslim berjumlah sekitar 11.000 orang dari sembilan juta penduduk Honduras.

Akar Islam di Honduras

Rodolfo Pastor Fasquelle, seorang sejarawan di Museum Antropologi dan Sejarah San Pedro Sula menjelaskan bahwa migrasi Arab Kristen datang dalam tiga gelombang: dari 1895-1915 ketika Kekhalifahan Turki Usmani runtuh; dari 1925 hingga 1940 setelah Perang Dunia Pertama  dan kemudian dari 1950-1970, setelah visa menjadi lebih mudah diperoleh.

“Dua gelombang migrasi pertama kebanyakan terdiri dari orang-orang Arab Kristen; hanya 15% dari imigran ini adalah Muslim Palestina, ” lanjut Fasquelle.

Salah satu Muslim asli Honduras, Kolonel Orlando Ajalla Gaños, mengatakan: “Saya mulai mempelajari Islam sendiri, dan jalan Allah datang untuk saya.”

Dibesarkan secara Katolik, Gaños telah menghabiskan sembilan tahun terakhir berangkat setiap minggu ke masjid San Pedro Sula dari Tegucigalpa. “Saya selalu senang tetapi sejak menjadi Muslim saya bahkan lebih bahagia.”

Konstitusi Honduras melindungi kebebasan dan praktik agama – meskipun pemerintah hanya secara resmi mengakui gereja Katolik Roma. Semua kelompok agama lainnya dikategorikan sebagai asosiasi keagamaan dan memiliki hak dan keistimewaan yang lebih sedikit.

“Kami tidak memiliki masalah dengan rasisme,” kata Imam Mohammad yang memberikan khotbah  Jumat di masjid dalam bahasa Spanyol dan Arab.

Hernandez, nelayan Garifuna menyatakan bahwa “tidak ada perbedaan antara ras dan warna. Kita semua bersaudara, itulah pangkal Islam. Merupakan suatu berkat untuk memiliki komunitas ini. “

Rahmadi

Rahmadi

kontributor, karyawan swasta, penerjemah freelance
share on: