Pembahasan Tentang Anak Dalam Al Quran

Ibarat masakan tanpa garam kurang lengkap rasanya bila pasangan suami isteri tak dikaruniai momongan. Karena itulah tak sedikit pasangan yang bertahun-tahun menikah namun belum dikaruniai anak mencoba berbagai upaya agar dikaruniai anak. Bahkan kalau perlu mengadopsi anak sebagi jalan terakhir untuk dapat menikmati repotnya mengasuh anak.

Demikianlah tabiat manusia sangat menyukai dan membanggakan keturunan, Allah  berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imron: 14)

Sayangnya orang tua seringkali lalai (bukan karena tak tahu) bahwa dibalik perhiasan hidup yang satu ini tersirat sekian bahaya yang mengancam. Oleh karena itu sadar akan posisi anak bagi orang tua menjadi sebuah keharusan.

Tentu sebagai seorang muslim yang baik Al-Qur’an merupakan acuan baginya dalam segala keadaan. Terkait dengan anak, Al-Qur’an banyak mengingatkan para orang tua dan pendidik tentang anak dan potensi yang mereka miliki, posisi yang mengandung potensi positif maupun negatif. Setidaknya ada lima posisi anak yang perlu dicermati setiap orang tua.

Anak sebagai perhiasan

Anak memang mutiara yang kemilau bagi setiap pasangan. Lebih-lebih saat anak masih dalam fase balita. Kelucuannya, kepolosannya dan segala polah tingkahnya betul-beetul menjadi penghibur duka lara dan letih bagi kedua orang tuanya. Demikian pula saat mereka dewasa, kesuksesan apapun yang berhasil diraih anak pasti akan menjadi kebanggaan kedua orangtua. Itulah nilai sebuah perhiasan, selalu menjadi kebanggaan pemilknya. Yang perlu diingat bahwa perhiasan dunia itu semu dan ada batasnya. Semuanya akan lenyap dengan kematian, kecuali bila sang perhiasan itu telah menjadi manusia bertakwa hngga ajal menemput dan menyusul kedua orang tua yang shalih. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya “ (QS Ath-thur : 21)

Anak Sebagai Cobaan

Allah  berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. Al Anfal: 28)

Al-Ustadz Sayyid Qutb  berkata mengenai ayat ini dalam tafsirnya:

“ Allah  Maha tahu perkara apa saja yang paling melemahkan di alam semesta ini, oleh karena itu Dia mengetahui bahwa rakus terhadap harta dan anak keturunan merupakan titik ujian yang paling melemahkan manusia di dunia.” (Fi Zhilalil Qur’an 3/389).

Ya anak memang betul-betul menguji orang tua, menguji kesabaran mereka, menguji komitmen mereka dalam mendidik anak. Mendidik anak betul-betu melelahkan dan meletihkan. Apalagi bila kemudian anak keturunan ternyata malah memalingkan orang tua dari ketaatan kepada Allah, rugi dunia dan akhirat.

Anak Yang Lemah

Allah berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Qs. An Nisa’: 9)

Ayat ini menjadi cambuk bagi para orang tua agar betul-betul memperhatikan nasib anak keterununan yang bisa saja mereka tinggalkan sewaktu-waktu karena ajal. Mempersiapkan semua faktor yang akan menguatkan anak di kemudian hari. Bukan hanya kuat secara ekonomi tetapi meliputi kekuatan iman, mental, ilmu dan semua faktor penting bagi kelangsungan genaerasi penerus baik duia maupun akhirat. Tak kalah penting untuk diperhatiakan, jangan sampai orang tua malah menjadi salah satu faktor pelemah anak.

Anak Menjadi Musuh

Allah  berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs At Taghabun: 14)

Posisi yang paling berbahaya adalah manakala anak telah menjadi musuh. Musuh yang menghalangi orang tua dari jalan Allah. Alangkah mengerikan, anak yang dulu dengan susah payah diasuh ternyata justru menjadi senjata yang mematikan. Penyebab utamanya adalah lalai dari memberikan pendidikan yang shalih bagi sang anak. Penyebab lainnya bisa jadi semenjak dini anak diperlakukan bak raja, semua keinginan hawa nafsunya dituruti.

Anak Shalih Penyejuk Mata Orang Tua

Allah  berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.“ (QS Al-Furqan: 74)

Ayat ini berbicara tentang salah satu sifat ibadurrahman (Hamba Allah Ar-Rahman) yaitu mereka mencita-citakan untuk memiliki isteri dan anak shalih penyejuk mata.

Mengenai makna penyejuk mata, Ikrimah  (salah seorang ahli tafsir) mengatakan, “Mereka (Ibadurrahman) tak menginginkan anak yang berparas cantik. Tetapi yang mereka inginkan adalah anak yang taat” (Tafsir Ibnu Katsir 6/130).

Semua orang yang shalih pasti mendambakan hal ini. Bahkan kita dapati di dalam Al-Qur’an Allah mengabarkan do’a-do’a para Nabi dan Rasul  agar dianugerahi anak yang shalih.

Inilah anak dan keturunan yang diharapkan bagi setiap keluarga muslim. Sekaligus kekhawatiran para orang tua muslim bila anak keturunannya tak bisa menjadi penyejuk mata. Tentu hal itu hanya dapat diraih dengan jerih payah dan kesungguhan orang tua yang dilandasi dengan keikhlasan yang tulus mereka yang disertai dengan sikap teladan yang utama serta do’a yang khusyuk kepada Allah. Selanjutnya diakhiri dengan kesungguhan tawakal keada Allah l . Wallahu a’lam bishshawab.

Penulis: Ust. Syahidan Sulthoni, S.Psi

Sumber: darusyahadah.com/al-quran-berbicara-tentang-anak/

Rahmadi

Rahmadi

kontributor, karyawan swasta, penerjemah freelance
share on: