Bermanfaat Bagi Orang Lain

Saudaraku, salah satu ciri pribadi mushlih adalah kebermanfaatannya bagi orang lain dan lingkungan. Jika kita melihat lagi makna dari kata shalih, maka kita menemukan kata ini terdiri dari rangkaian tiga huruf Arab yaitu shad, lam dan ha. Jika menelusuri kepada akar katanya, maka kata ini bermakna lawan dari kerusakan. Artinya, berbuat kebaikan, keteraturan, keberesan, keamanan, kenyamanan.

Demikianlah orang yang mushlih itu. Lisannya selamat dari ucapan-ucapan kotor dan sia-sia, selamat dari celetukan-celetukan yang tiada berguna. Lisannya basah dengan zikir dan kalimat-kalimat yang mengandung kebenaran dan kebaikan. Bahkan dalam keadaan bersenda gurau pun, lisannya selamat dari dusta. Begitu pula tangan dan perbuatannya, selamat dari kezaliman, kerusakan dan sikap-sikap yang menyakiti orang lain.

Rasulullah bersabda, “Seorang muslim yang sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan perbuatannya. Dan orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang mushlih sangat dirasakan kehadirannya oleh orang lain. Itu disebabkan sikap-sikapnya yang menebarkan kebaikan, menenteramkan, dan mendatangkan manfaat bagi orang lain di sekitarnya. Saat dia ada maka orang-orang merasakan kebaikannya, dan saat ia tiada maka orang-orang merasakan ketiadaannya. Bahkan kehadirannya kembali sangat dinantikan.

Karena ada juga orang yang antara ada dan tiadanya ia rasanya sama saja. Malah ada juga orang yang ketidakhadirannya lebih disukai daripada kehadirannya. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang seperti ini.

Orang yang mushlih selalu meluangkan waktu untuk bisa membantu meringankan beban orang lain. Baginya, tiada kebahagiaan kecuali saat bisa membahagiakan orang lain. Tiada keringanan hidup selain bisa meringankan kesulitan hidup orang lain.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda, “Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Pada hakikatnya manusia selalu membutuhkan keterlibatan orang lain dalam hidupnya. Pada helai baju yang kita pakai hari ini saja, banyak tangan yang sudah terlibat di sana. Ada keterlibatan petani kapas, ada keuletan pembuat kain, ada kesungguhan pedagang dan keterampilan penjahitnya, dan seterusnya hingga sampai di badan kita. Begitu juga pada makanan yang kita nikmati hari ini. Ada keterlibatan petani padi, pembuat garam, tangan dingin yang memasak dan seterusnya.

Masya Allah! Sungguh banyak manfaat yang sudah kita terima dari orang lain. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita pun berbuat demikian, menjadi manfaat bagi orang lain. Karena sebagaimana yang Rasulullah ajarkan, manusia yang paling baik adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.

Tidak patut kita hidup individualis, apalagi egois hanya mementingkan kepentingan diri sendiri. Karena pada dasarnya fitrah manusia tidaklah demikian. Kita adalah makhluk sosial, yang sebenarnya kebahagiaan sejati akan dirasakan manakala kita bisa membahagiakan orang lain.

Dan, bukan hanya kepada sesama manusia saja, perbuatannya pun jauh dari sikap-sikap merusak terhadap alam. Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman, “Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 3)

Seorang yang mushlih benar-benar meresapi ayat ini, bahwa segala apa yang ada di alam semesta, termasuk yang ada di pekarangan rumahnya, di kebun, ladang dan hutan adalah mutlak ciptaan Allah dan milik-Nya. Semua ada dalam penguasaan kita tiada lain hanyalah sebagai titipan Allah kepada kita.

Oleh karena itu, memelihara alam adalah bukti keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Merusak alam adalah bentuk kekufuran terhadap Allah. Pantang bagi seorang mushlih membuang sampah ke saluran air, selokan atau sungai. Pantang bagi seorang mushlih menebangi pohon tanpa menanaminya kembali atau melakukan pelestarian. Alam ini memang Allah ciptakan bagi kepentingan kita, tetapi tidak untuk kita perlakukan sesuai hawa nafsu.

Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu akan menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

Betapa besar berkah dari ikhtiar kita memelihara alam ini. Dan, ini pun merupakan urusan yang sangat penting sehingga Rasulullah saw bersabda, “Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang kalian ada bibit kurma, maka apabila dia mampu menanam sebelum kiamat terjadi maka hendaklah dia menanamnya.” (HR. Bukhari, Ahmad)

 

Oleh KH. Abdullah Gymnastiar
sumber: http://www.daaruttauhiid.org/artikel/read/nasehat/1080/bermanfaat-bagi-orang-lain-dan-lingkungan.html

Rahmadi

Rahmadi

kontributor, karyawan swasta, penerjemah freelance
share on: