Oleh: Curious George Bolang
Terorisme adalah sebuah lakon ketoprak, sandiwara Jawa Tengahan yang dipentaskan di atas tobong atau pentas. Bukan ketoprak Betawi yang isinya ketupat campur bumbu kacang. Sebagai lakon yang sedang in, terorisme selalu dipentaskan sesuai pakem cerita yang tak boleh dilanggar: teroris adalah musuh bersama, monster mengerikan yang bukan manusia.
Dalam ketoprak selalu ada bas, sang boss yang mengendalikan skenario panggung hingga pilihan warna kelir. Bas juga yang menentukan, kapan saatnya tobong pindah ke kampung lain jika tempat yang sekarang sudah sepi penonton. Bas adalah jangkar grup ketoprak yang harus selalu berpijak kepada pembuat pakem dan pemilik cerita.
Tobong paling top yang menjadi pelopor ketoprak teror adalah Tobong Onde. Basnya biasa dipanggil Bang Onde. Ia dipanggil begitu karena suka berpantun dan berujar ala orang Padang, Onde… Mande…
Bang Onde adalah bas berbakat. Ia tak pernah kekurangan ide dan improvisasi agar Ketoprak Teror tak membosankan. Meski pakem selalu dijaga, carangan atau kisah turunan baru selalu digelar. Maklum, ia kenal dekat dengan Boris Mrene, empu cerita penghuni hotel bintang tiga yang rajin kulakan pakem ke Australia.
Konon, kata para kuli tobong yang kerap bergosip sambil menunggu honor pentas dibagi, dahulu Bang Onde kerap membantu Boris saat ia masih tinggal di hotel melati. Waktu itu si abang masih jadi tukang mendongeng spesialis kriminil. Tobongnya masih bernama Showroom Keadilan. Klop dengan Boris yang banyak bahan cerita kriminil saat itu.
Arkian, Boris naik derajat dan punya mainan seru. Ia terlibat dalam proyek cerita tingkat dunia, dibesut para dewa kayangan Jonggring Salaka. Tempat Batara Bush, belakangan ganti Batara Obama, bertahta.
Kantongnya pun mulai penuh dolar, bukan cuma rupiah. Kocek melimpah membuat ia punya banyak anak buah. Setia betul mereka, konon banyak eks Obet dari Ambon sana. Jadilah ia empu cerita yang tak lupa pada sahabat lamanya, si abang tokoh kita. Setiap cerita baru yang menarik selalu eksklusif buat Bang Onde. Pelajaran moralnya: kawan akrab bisa menjadi sumber rejeki.
Jadilah Abang Onde bas ternama, tobongnya selalu menyajikan lakon terbaru. Ia juga menjadi pelopor genre terbaru setelah Ketoprak Humor tak lagi ngetop, yaitu Ketoprak Teror. Uups, harap jangan keliru dengan Kerak Telor jualan Bang Mamat di Pekan Raya Jakarta.
Setiap tobong butuh primadona. Harus cantik dan menarik, kenes menggoda, namun tetap elegan sebagai pusat cerita. Primadona tobong kita adalah Tres Notholi, cantik menawan hati. Lincah dan cerdas menggiring cerita, multirole pun bisa. Jadi putri keraton sampai blusukan di hutan tak segan dijalani.
Primadona selalu ikut dalam lakon apapun, kadang Tres tampil menor di depan kelir Griya Nusantara, kadang harus menyamar naik kereta dan turun ke sawah di kelir Yogyakarta. Pernah ia harus memegang pedang di kelir Palembang. Sesekali tiarap di tengah desingan peluru di kelir Temanggung.
Tres cerdas dan bijak. Namun ia pernah juga kesandung. Saat ia bercerita tentang Gaza, ia membela Israel yang lagi jadi kambing hitam. Tapi ia lupa, kebanyakan penontonnya tidak suka bahkan benci pada Israel. Sebuah bungkus rokok melayang, wuuus… dan tepluk! Pas mendarat di jidatnya yang licin sehingga benjol. Pelajaran moralnya: kenali dan risetlah latar belakang mayoritas penonton sebelum ngetoprak.
Maka primadona itu diistirahatkan beberapa lama. Ia baru muncul lagi ketika bercerita lakon negeri seberang, tentang sebuah kecelakaan pesawat di Belanda. Setelah itu ia mulai diaktifkan secara bertahap, tapi dihindarkan dari lakon SARA. Bas mengarahkan agar dia fokus di lakon spesialnya: ketoprak teror.
Dalam pakem ketoprak, sama dengan wayang, primadona sebagai tokoh utama selalu didampingi punakawan. Kecantikan Tres akan lebih menonjol jika didampingi rupa kontras yang lucu dan menghibur. Didapuklah Cecep Gorbacep, seorang alumni IAIN sebagai sang punakawan.
Cecep ini sangat teramat ngetop di almamaternya. Buktinya brosur promosi kampusnya memasang fotonya sebagai alumni sukses. Siapa tahu banyak calon mahasiswa mendaftar, belajar Islam liberal, karena tertarik kengetopan Cecep di dunia ketoprak.
Sebagai punakawan profesional, Cecep siap mendampingi primadona ke manapun. Ketika di Temanggung, dengan gagah berani ia bercerita di bawah rumpun bambu, di tengah desingan peluru. Ia melaporkan “baku tembak” antara 600 kawanan Boris melawan seorang teroris. Celakanya ia memastikan bahwa teroris yang kemudian tewas itu adalah Sardin Ngetop, tokoh antagonis utama dalam ketoprak teror.
Memastikan benarnya cerita yang ternyata salah adalah dosa besar. Pasalnya jelas: membocorkan rahasia kayangan. Maka sebagai hukuman, sang punakawan dipisahkan dari primadona junjungannya. Namun ia justru tambah dekat dengan kawanan Boris dan menjadi pencerita utama dalam lakon-lakon ketoprak teror. Kini ia tak lagi jadi “the beast” untuk menonjolkan “the beauty” Tres. Pelajaran moralnya: hikmah selalu ada di balik setiap musibah.
Selain duet Tres-Cecep, Bang Onde punya seorang primadona lain. Namanya Rindi Nggaranggati, cantik juga meski lebih tua. Primadona yang satu ini spesialis peran keraton. Tak seperti Tres yang sering blusukan ke lapangan, Rindi lebih sering manggung di depan kelir Griya Nusantara.
Rindi ini primadona kesayangan Bang Onde dari dahulu kala. Ketika si abang masih di Tobong Surya, ia ikut. Begitupun waktu abang pindah ke Tobong Andalas, ia ikut juga. Di Andalas, Cindy bahkan membawakan rintisan lakon ketoprak teror berjudul “Wanted.”
Lakon ini mirip drama koboi Amerika dengan sentuhan lokal. Wanted spesialis bercerita tentang para buronan, DPO istilah kerennya. Sebuah lakon Wanted pernah menghadirkan anak buah Boris, bertopi dan disamarkan, sebagai bintang tamu.
Waktu itu DPO ngetop nomer dua setelah Sardin Ngetop adalah Abu Terajana. Sang bintang tamu sempat keceplosan bahwa Abu Terajana terdeteksi ada di suatu daerah. Untung Abu Terajana bukan penggemar lakon Wanted, ia ditangkap sebelum pindah. Pelajaran moralnya: jadi pengarang cerita jangan suka keceplosan, jadi teroris sebaiknya rajin nonton teve.
Rindi kemudian ikut sang bas, hijrah ke Tobong Onde. Karena rajin bangun pagi, ia bisa dandan lebih pagi dan membawakan lakon berjudul Selamat Pagi. Mungkin karena kepagian, wardrobe yang dia kenakan sering tidak matching meskipun sangat eye catching. Di situs anchor ketoprak favorit, ia sering dikritik soal ini.
Sama seperti Tres, Rindi pun pernah kesandung. Jika jidat Tres disambit bungkus rokok penonton, Cindy malah lebih parah. Ia diserimpung, apa ya terjemahan tepatnya, dijegal dalam lakon laris berjudul Markus. Entah bagaimana ceritanya, ia kebagian mewawancarai bintang tamu bertopeng yang ternyata bukan Markus. Mungkin Markus tapi KW, bukan Ori.
Rindi mungkin jadi terlalu pede setelah sekian lama ikut Bang Onde. Berani-beraninya ia melakonkan Markus yang juga bagian dari rahasia kayangan. Jadilah ketenarannya ternoda. Ia dinonaktifkan di lakon Selamat Pagi. Tapi itu tak lama.
Pesona Rindi tak terkalahkan, ia sangat dibutuhkan dalam ketoprak teror. Sebagai senior, ia lebih berani daripada Tres dalam menggiring cerita. Rindi tak sedikitpun menutupi kekagumannya pada Boris dan kebenciannya pada teroris. Pelajaran moralnya: kesetiaan akan menutup segala noda.
bersambung....
