|
ANTARA DOSA DAN TAUBAT
Oleh Supriyanto
Sudah menjadi maklum adanya bahwa dosa dan kemaksiatan adalah sesuatu hal yang membahayakan. Terlebih lagi dapat dipahami bahwa bahaya dosa dan kemaksiatan bagi hati layaknya bahaya racun bagi badan.
Selanjutnya, dari pemahaman tadi mungkin akan terbesit dalam benak pikiran kita sebuah pertanyaan “Apakah ada sebab lain selain dosa yang dapat menimbulkan kerusakan bagi seorang hamba di kehidupan dunia dan akhiratnya ?”
Agaknya, untuk menjawab pertanyaan ini dibutuhkan data konkrit tentang kejadian-kejadian yang pernah terjadi dalam lembaran sejarah. Adapun diantara beberapa kejadian tersebut adalah :
Pertama : Fakta sejarah tentang dikeluarkannya iblis dari kerajaan langit dan dihempaskan darinya, menjadikannya makhluk yang terlaknat, merubahnya dengan penampilan terjelek baik secara dhohir dan batinnya bahkan batinnya lebih jelek dari dhohirnya, menggantikan baginya rahmat dengan laknat, keindahan dengan kejelekan, jannah dengan neraka yang menyala-nyala, keimanan dengan kekufuran, kefasikan serta pembangkangan. Karena hal apakah kejadian itu ?
Kedua : Fakta sejarah. tentang keluarnya adam dan hawa dari dalam jannah yang merupakan tempat penuh kenikmatan, kesenangan menuju tempat yang penuh derita, kesedihan dan musibah. Karena hal apakah kejadian itu ?
Ketiga : fakta sejarah tentang ditenggelamkannya penduduk bumi dengan air banjir bahkan sampai orang yang berada di puncak gunung. Karena hal apakah kejadian itu ?
Seharusnya, dengan beberapa rentetan fakta sejarah tersebut cukup untuk menjawab pertanyaan yang ada. Karena, kejadian itu memberikan gambaran akan besarnya akibat yang ditimbulkan oleh dosa dan kemaksiatan. Juga, data tersebut cukup memberikan peringatan kepada kita akan bahaya dosa dan kemaksiatan.
Lebih dari hal itu semua, jauh-jauh hari Rasulullah telah mengingatkan melalui lisannya "Jika banyak kemaksiatan yang muncul pada umatku niscaya Allah akan meratakan adzab dari sisi-Nya. Lantas Umu Salamah berkata "Wahai Rasulullah meskipun diantara mereka ada orang yang shalih? Jawabnya : benar. Umu Salamah berkata "bagaimana Allah berbuat terhadap mereka?. Jawabnya "Allah akan menimpakan mereka sebagaimana yang ditimpakan kepada manusia kemudian mereka akan mendapatkan ampunan Allah dan keridhoan-Nya"
Walaupun demikian, Allah tetap memberikan banyak anugerah kepada manusia. Diantaranya, Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Memberinya akal dan kemampuan berfikir yang cemerlang dalam menentukan langkah kehidupannya. Disamping itu, Allah memberikan anugerah lainnya kepada manusia yang berupa pembukaan pintu taubat bagi mereka. Dia memberikannya kepada orang yang mau bertaubat dan kembali kepada-Nya.
Sebagai tambahan juga, bahwa Allah menerima linangan air mata dari para pendosa dan ahli maksiat. Yaitu Air mata yang terkucur lantaran keinginan mereka untuk kembali dan bertaubat kepada-Nya. Pada aslinya, pintu taubat ini dibuka karena Allah mengetahui bahwa manusia sangat mungkin sekali untuk terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat. Sebagai bentuk akibat adanya tipu daya dan godaan setan kepada mereka. Allah telah berfirman
Ùˆ هو الذي يقبل التوبة عن عباده Ùˆ يعÙوا عن السيئات Ùˆ يعلم ما ØªÙØ¹Ù„ون
"Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kalian kerjakan" (asy-Syura : 25)
Adapun makna taubat itu sendiri adalah kembalinya seseorang hamba kepada Allah, meninggalkan jalan orana-orang yang dimurkai dan meninggalkan jalan orang-orang yang sesat. Atau dengan arti lain bahwa taubat adalah berpindah dari kehidupan setan, kesia-siaan, bersenang-senang, permainan (lahwun) menuju kehidupan yang dipenuhi keimanan. (sa'id musfar al-qahthani)
Sementara itu Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan "Dalam istilah syara', taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang bisa diulangi (diganti)".
Secara singkat dapat dikatakan, bahwa dosa yang dilakukan oleh seseorang tidak terlepas dari dua hal. Pertama, berkenaan dengan hak Allah. Kedua, berkenaan dengan hak sesama manusia.
Oleh sebab itu, langkah seseorang untuk bertaubat dapat dilakukan sesuai dengan keterkaitan hak yang dilanggarnya. Jadi, seseorang yang ingin bertaubat dari dosa berkenaan dengan hak Allah mengharuskan beberapa langkah berikut :
Pertama : meninggalkan maksiat yang dilakukan. Karena seseorang tidak akan bisa bertaubat tanpa meninggalkan perbuatannya tersebut.
Kedua : menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukannya. Apalagi, taubat tidak akan pernah ada tanpa adanya penyesalan dari hati terhadap dosa yang dilakukan. Hal ini dikarenakan seorang yang tidak menyesal atas keburukan yang ia lakukan berarti telah ridha dan merasa nikmat dengan keburukan tersebut
Ketiga : berazam dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya. Azam untuk tidak mengulangi perbuatan dosa haruslah benar-benar dibangun diatas keikhlasan dan keseriusan.
Keempat : melakukan taubat sebelum datang ajalnya dan sebelum matahari terbit dari barat.
Seperti halnya langkah taubat yang berkenaan dengan hak Allah. Maka, langkah taubat yang berkenaan hak sesama manusia dilakukan dengan langkah-langkah serupa. Sebagai tambahannya, ia juga harus meminta keridhoan dari orang yang telah didholiminya tanpa adanya paksaan. Atau ia harus mengembalikan hak orang yang telah ia dholimi.
Secara singkat, tata cara bertaubat diatas senada dengan perkataan Imam An-Nawawi. Dengan redaksionalnya sendiri beliau menjelaskan "Para ulama berkata, 'Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali perbuatan maksiatnya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah."
Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa tidak ada jalan terbaik setelah melakukan kemaksiatan kecuali bertaubat dan kembali kepada Allah.
[muslimdaily.net]
