
Oleh: Ahmad Togar
Kang Samidi tersenyum kecil memasuki warung kopi Pak Kumis. Tangannya menenteng sebuah koran harian dengan judul besar tercetak di halaman muka, “Bos Pabrik Semen Tewas Kena Ledakan Bom.” Segera ia nangkring di bangku panjang yang telah terisi.
“Kopi susu satu Pak,” pesannya sambil menyambar ketan goreng yang masih hangat. “Akhirnya kelakon juga orang yang bikin bangkrut usahaku kena karma,” gumamnya agak keras.
“Siapa Kang?” tanya Temon, bujangan pengangguran yang hobi menenteng HT ke mana-mana. Bergaya ala intel membuat dia bisa ngutang di warung Pak Kumis. Kalau giliran ditagih, maka Muklis yang gajian jadi Satpam menjadi sasaran tembak ngutang. Meski pengangguran, kebiasaan Temon ngebrik sambil sesekali bilang “ lapan.. enam…, lapan.. satu.. tiga..” bisa meyakinkan Muklis bahwa ia tengah membantu tugas “intel” bokek itu.
“Itu, bos pabrik semen yang bikin bangkrut usaha bata inyong,” tunjuknya ke koran di meja. “Gara-gara pabriknya memborong merang dari semua penggilingan padi, katanya buat ngirit solar, bataku jadi telat dibakar dan keburu hujan. Mau beli kayu bakar nggak ada duit, bangkrut dadine tobong inyong. Dasar neolib!”
Muklis yang lagi off setelah jaga shift malam manggut-manggut. Temon menepuk pundaknya keras, akibatnya Muklis yang sedang menyeruput kopi panas jadi gelagapan. “Apaan sih Mon, bikin kaget orang aja.”
“Ini nih Klis, contoh pendukung teroris. Masa ada orang tak berdosa mati kena bom malah disukurin,” sungut Temon sambil menuding Kang Samidi dengan antena HT-nya yang mendul-mendul.
“Aja kaya kuwe Mon!” sergah Kang Samidi tersinggung. “Inyong bukan pendukung teroris, tapi tobonge inyong memang bangkrut gara-gara pabrik semen itu memonopoli merang. Jangan bilang dia nggak berdosa, apa bikin wong cilik seperti inyong susah makan nggak berdosa?”
“Ngawur aja Lo!” ngotot Temon, “justru ada pabrik semen jadi banyak yang bisa kerja. Inpestasi masup, ekonomi berkembang, pembangunan lancar. Teroris-teroris itu yang bikin kacau, nanti banyak pengangguran. Kalo banyak yang nganggur, nanti Pak Kumis bisa bangkrut diutangi tok. Ya nggak Pak Kumis?”
Pak Kumis yang mencoba netral cuma garuk-garuk kepala. Tapi dipakainya kesempatan itu untuk menohok Temon. “Ah.. sekarang juga udah terancam bangkrut kok Mon. Soalnya petugas kayak sampean aja ngutang nggak bayar-bayar.”
Temon mati kutu, mukanya merah tapi lidahnya kelu. Untung HT-nya berbunyi kemeresek. “Tango Mike.. Ada tugas baru.. cari orang dengan ciri-ciri bla bla bla… diduga dia Tango Echo Romeo Oscar Romeo India November.”
Pada saat bersamaan Ustad Fahrudin, guru ngaji di masjid kampung melintas dengan vespa bututnya. Temon yang pernah digampar sang ustad gara-gara mencolek Aisyah, anak Fahrudin, bergegas berdiri. “Panggilan tugas neh… gua udah lama curiga sama Ustad Fahrudin. Kayaknya dia terkait jaringan teroris. Pak Kumis, masukin ke bonku ya!”
Cepat-cepat ia meloncat ke motornya yang tanpa pelat nomer. Pak Kumis mendelik, “Mooon… kapan bayarnya? Udah seratus limapuluh ribu lhooo!”
“Tenang, begitu duit operasi turun pasti gua bayar Paak!” teriak Temon sambil menarik gas motornya. Asap mengepul mengiringi jeritan motor sitaan dari jambret yang tertangkap itu.
Tinggallah Muklis yang setengah ngantuk dengan Samidi yang masih mengunyah ketan goreng. “Bener juga omongan sampean Kang. Dulu saya pernah kerja di perusahaan asing itu. Gaji kecil, kerja berat, sering dimarahi. Padahal untung mereka gede lho..”
“Makanya Klis, jangan kerja ama orang asing kayak gitu. Bahaya, nyawa sampean bisa jadi taruhan. Orang yang merampas hak orang lain pasti banyak yang benci. Kayaknya ada orang-orang yang pengen mengusir mereka dari negeri ini. Moga-moga saja Ustad Fahrudin nggak sampai ditangkep gara-gara dilaporin Temon. Dia kan masih dendam gara-gara ditolak jadi mantunya..”
“Iya Kang, enakan jaga pabrik roti bangsa kita sendiri. Nggak takut dibom.. hehehe,” seringai Muklis sambil meletakkan uang di meja. Pak Kumis pun ikut tersenyum, biarpun kemana-mana naik sepeda atau jalan kaki, Muklis dan Samidi tak pernah ngutang. Mereka anak bangsa yang tahu harga diri, bukan tipe yang hobi berhutang. Justru merekalah yang membuat dapur Pak Kumis lancar ngebul.
Sampun.
