Segala penjuru membicarakan isu yang sama, KIAMAT. Banyak anak muda juga terbawa arus membicarakan persoalan yang sama, apakah benar tahun 2012 adalah akhir dari dunia. Awalnya, isu ini digulirkan oleh sebuah filem besutan sutradara Hollywood. Tetapi lambat laun masyarakat mulai merespon dengan serius isu ini. Apalagi didukung dengan fakta ilmiah adanya ancaman melelehnya es di permukaan bumi. Resikonya banyak pulau akan tenggelam termasuk Indonesia. Tentu saja berita semacam ini menggegerkan dunia, apalagi mereka yang masih remaja. Ada yang ketakutan, tetapi ada pula yang menganggapnya hanya sebatas hiburan semata.Sebagai seorang muslim, seharusnya kita tidak perlu terombang-ambing oleh isu semacam ini. Karena memang selama ini kita sudah punya prinsip, bahwa Kiamat adalah hal yang ghaib. Hanya Allah yang tahu kapan terjadinya. Kita hanya dikasih tahu tentang tanda-tandanya saja melalui hadits dan quran yang kita baca. Sayangnya, banyak remaja kita yang sudah tidak pernah mau membaca dua kitab itu. Pengajian juga pengennya yang lucu-lucu, sehingga jarang ada yang mau mengkaji urusan agama secara serius.
Fenomena Kiamat 2012 juga menunjukkan bahwa siapapun bisa menguasai informasi kalau mereka memiliki uang untuk membeli Hollywood. Urusan keyakinan agama pun bisa diputar-balikkan sedemikian rupa, hanya kalau bisa membeli sutradara Hollywood dan meminta dia membuat film yang sama. Artinya kalau Anda punya uang banyak, Anda bisa mengorder sang sutradara agar mengulur filmnya menjadi Kiamat 5012. Tetapi sayangnya, kelas kita hanyalah kelas konsumen, belum bisa beranjak ke produsen.
Selanjutnya, fenomena ini juga mengajarkan kepada kita betapa ummat ini sudah tidak begitu memperhatikan ulamanya. Ketika para ulama di MUI berfatwa melarang film ini, masyarakat malah tetap mengantri membeli tiket untuk melihatnya. Alasan MUI, film ini syarat dengan propaganda agama kristen, karena mereka yang masuk ke gereja akan selamat dari Kiamat, sedangkan yang tidak, akan celaka. Apa yang salah? Salah fatwanya, atau salah umatnya yang sudah tidak mau peduli dengan ulamanya? Semoga setiap kita bisa segera mengambil pelajaran dari fenomena ini.
