Oleh Burhan Sodiq
Seperti panggung, usai Ramadhan pakaian-pakaian kealiman ditanggalkan. Dulu yang selalu berbaju koko, berkerudung kain, dan bersarung, berpeci dan bermukena, sekarang kembali ke 'habitat' aslinya. Pakaian seksi, mini dan penuh sensasi menjadi pilihan kembali dalam mengisi hidup ini.
Hari kemenangan diartikan sebagai hari kebebasan dari belenggu Ramadhan. Idul Fitri diartikan dengan hari dimana kembali bisa berlebih-lebihan, baik soal makanan atau nafsu-nafsu yang lainnya.
Tak ada bekas-bekas Ramadhan kecuali hanya cerita-cerita tentang hutang puasa, sahur yang kesiangan, atau harga baju baru yang kemahalan.
Kini semua cerita itu berganti dengan ajang bermaaf-maafan yang seringkali justru berlebih-lebihan. Mengadakan acara halal bi halal dengan aneka kemasan, hiburan yang cenderung bermaksiat, dan ketidakbisaan mengendalikan keinginan. Laki-laki dan perempuan bercampur menjadi satu, saling sentuh, saling berjabat tangan.
Esensi hari kemenangan telah hilang. Berganti dengan hingar bingar kemeriahan yang tidak jelas maknanya. Hampir mirip hanya sekedar acara seremonial. Berduyun-duyun, beramai-ramai dan hanya ikut-ikutan. Apa makna idul Fitri tidak jelas. Hanya tersemat pada imaj bahwa inilah hari raya dimana semua asesoris pakaian harus baru. Sehingga bukan kesederhanaan yang ditanamkan, malah pemborosan yang berlebihan.
Momen hari kemenangan ini seharusnya merupakan hari bangkitnya setiap jiwa untuk tumbuh menjadi jiwa yang lebih shalih dan shalihah. Proses pelatihan selama sebulan berpuasa, seharusnya bukan dianggap sebagai belenggu yang memasung jiwa. Namun justru dilihat sebagai bulan pelatihan untuk meningkatkan predikat takwa.
Sejauh mana takwa kita bertambah, dan sejauh mana pula kedekatan kita kepada Allah menjadi semakin kuat. Ramadhan harusnya menorehkan jejak-jejak itu. Sehingga Idul Fitri yang dirasakan hari ini akan menjadi bagian dari hidup yang sangat bermakna dan bukan kebahagiaan tanpa hampa.
Ia bukan hanya sekedar acara mudik, pulang kampung bertemu sanak saudara. Menghabiskan uang untuk berfoya-foya meramaikan hari raya. Namun ia adalah ajang evaluasi, sejauh mana Ramadhan tahun ini memberi arti bagi pengembangan iman kita.
Hari kemenangan ini juga bisa menjadi titik awal pertaubatan kita atas dosa yang selama ini dikerjakan. Karena sangatlah banyak manusia yang tahu berbuat dosa, namun ia masih saja melakukannya. Maka saatnya kita merenung, sudah mendapat apa di hari kemenangan kita kali ini...
Seperti panggung, usai Ramadhan pakaian-pakaian kealiman ditanggalkan. Dulu yang selalu berbaju koko, berkerudung kain, dan bersarung, berpeci dan bermukena, sekarang kembali ke 'habitat' aslinya. Pakaian seksi, mini dan penuh sensasi menjadi pilihan kembali dalam mengisi hidup ini.Hari kemenangan diartikan sebagai hari kebebasan dari belenggu Ramadhan. Idul Fitri diartikan dengan hari dimana kembali bisa berlebih-lebihan, baik soal makanan atau nafsu-nafsu yang lainnya.
Tak ada bekas-bekas Ramadhan kecuali hanya cerita-cerita tentang hutang puasa, sahur yang kesiangan, atau harga baju baru yang kemahalan.
Kini semua cerita itu berganti dengan ajang bermaaf-maafan yang seringkali justru berlebih-lebihan. Mengadakan acara halal bi halal dengan aneka kemasan, hiburan yang cenderung bermaksiat, dan ketidakbisaan mengendalikan keinginan. Laki-laki dan perempuan bercampur menjadi satu, saling sentuh, saling berjabat tangan.
Esensi hari kemenangan telah hilang. Berganti dengan hingar bingar kemeriahan yang tidak jelas maknanya. Hampir mirip hanya sekedar acara seremonial. Berduyun-duyun, beramai-ramai dan hanya ikut-ikutan. Apa makna idul Fitri tidak jelas. Hanya tersemat pada imaj bahwa inilah hari raya dimana semua asesoris pakaian harus baru. Sehingga bukan kesederhanaan yang ditanamkan, malah pemborosan yang berlebihan.
Momen hari kemenangan ini seharusnya merupakan hari bangkitnya setiap jiwa untuk tumbuh menjadi jiwa yang lebih shalih dan shalihah. Proses pelatihan selama sebulan berpuasa, seharusnya bukan dianggap sebagai belenggu yang memasung jiwa. Namun justru dilihat sebagai bulan pelatihan untuk meningkatkan predikat takwa.
Sejauh mana takwa kita bertambah, dan sejauh mana pula kedekatan kita kepada Allah menjadi semakin kuat. Ramadhan harusnya menorehkan jejak-jejak itu. Sehingga Idul Fitri yang dirasakan hari ini akan menjadi bagian dari hidup yang sangat bermakna dan bukan kebahagiaan tanpa hampa.
Ia bukan hanya sekedar acara mudik, pulang kampung bertemu sanak saudara. Menghabiskan uang untuk berfoya-foya meramaikan hari raya. Namun ia adalah ajang evaluasi, sejauh mana Ramadhan tahun ini memberi arti bagi pengembangan iman kita.
Hari kemenangan ini juga bisa menjadi titik awal pertaubatan kita atas dosa yang selama ini dikerjakan. Karena sangatlah banyak manusia yang tahu berbuat dosa, namun ia masih saja melakukannya. Maka saatnya kita merenung, sudah mendapat apa di hari kemenangan kita kali ini...
