Oleh Burhan Sodiq
Apakah masuk akal di saat umat Islam sahur malah disuguhi tontonan orang menyanyikan lagu-lagu cinta? Apa hubungannya berkaraoke ria dengan khusuknya ibadah Ramadhan umat Islam?Inilah yang terjadi di Indonesia. Bulan Ramadhan yang mulia, nampaknya tidak cukup mulia di kalangan beberapa produser televise kita. Saat-saat kaum muslimin menjalankan puasanya, justru malah para produser televisi menyuguhkan tontonan yang jauh dari nilai Ramadhan, bahkan malah tidak ada hubungannya sama sekali dengan Ramadhan.
Logika apa yang bekerja di kepala mereka ketika justru menayangkan acara tebak lagu di saat-saat kita menjalankan sahur? Pikiran apa yang sedang bekerja di kepala mereka sehingga orang sahur justru disuguhi dengan nyanyian. Di manakah letak unsur edukatifnya? Apakah di saat para kontestan menari berjingkrak-jingkrak, atau di saat mereka dengan suka hati berteriak-teriak menyanyi?
Lalu di manakah letak empati mereka terhadap umat terbesar negeri ini yang sedang menjalankan puasa? Bukankah bukan nyanyian dan lagu tidak bermutu yang seharusnya mereka tayangkan, tetapi malah lantunan doa dan ayat suci al Quran. Tak ada pesan moral, tak ada pula pesan-pesan kebaikan Ramadhan, hanya hura-hura dan canda tawa.
Sayangnya, pemirsa yang notabene umat Islam pun mengamini ketidakpatutan ini. Mereka justru sangat menikmati tayangan ini. Buktinya tayangan ini masih saja eksis dan selalu tayang. Pemirsa televisi juga tidak memiliki kepekaan nurani. Karena mereka hanya asyik menikmati hiburannya, namun melupakan esensi puasa mereka.
Inilah pengaburan makna itu. Dan proses ini akan terus berjalan melenggang. Tahun ini sudah mulai terasa, Ramadhan hanya simbol saja di televisi kita. Simbol berupa kerudung sekenanya, peci yang dipakai sekehendaknya, atau pada simbol-simbol ketupat dan asesoris lainnya. Tak ubahnya ini hanya aspek tampilan saja. Tapi memang acara nyanyi-nyanyi ini sangat 'luar biasa', simbol-simbol pun juga tidak. Ia sama sekali tak ada kepekaan sedikit pun dengan bulan yang ditaburkan Rahmat Allah ini. Sungguh kasihan…
Umat Islam sengaja dijauhkan dari al Quran. Mereka dibuat sibuk dengan tayangan dan tontonan. Sementara kitab suci mereka dibiarkan berdebu tak pernah dibaca di sudut-sudut lemari yang mereka miliki. Saatnya kita mulai berdakwah kepada masyarakat tentang hal ini. Mengajak mereka untuk melakukan protes terhadap tayangan yang tidak memiliki kepekaan Ramadhan. Meski kita juga sadar bulan ini hanya tersisa hitungan jari. Semoga Allah menjaga setiap niat amal shalih kita dan mencatatnya sebagai sebuah awal kebaikan.
