
Kita semua tahu apa yang terjadi hari ini. Para politisi yang sedang memperebutkan kursi di istana negeri ini. Sampai-sampai segala buku dikeluarkan dengan kaver dua istri sang capres dan cawapres yang mengenakan busana muslimah. Hal ini tentu saja menjadi sebuah senjata untuk mengikat ketertarikan publik Islam dalam menjatuhkan pilihan mereka kelak. Sementara kandidat lainnya merasa bengong, karena mereka tidak punya istri yang mengenakan jilbab. Satu kosong! Begitulah kira-kira.
Sah-sah saja sebenarnya mau bikin buku soal apa terserah. Tetapi bila timingnya dan kavernya seperti itu nampaknya akan menjadi sebuah persoalan. Niatnya menjadi dipertanyakan, atau setidaknya menjadi sebuah bahan gurauan. Apakah niat berjilbab itu tulus ataukah hanya sekadar untuk memuluskan peluang merebut kursi istana. Tentu saja itu bukan hak kita untuk menjawabnya. Tetapi harus dikembalikan kepada Allah ta'ala.
Politik akhirnya menjadi sebuah ajang kepentingan. Apa saja bisa digunakan, siapa saja juga bisa dimanfaatkan. Tujuannya hanya satu, meloloskan sebuah kepentingan. Kepentingan jangka panjang, pendek atau pun sesaat saja. Politik akhirnya bukan sebagai sebuah ajang perjuangan ideologi, namun hanya sebagai cara untuk mendapatkan porsi kekuasaan.
Jangankan jilbab, ayat Quran pun bisa dialihkan maknanya, ditafsiri berbeda dengan ulama besar salafusshalih hanya sekedar untuk meloloskan sebuah kepentingan. Ikon-ikon keagamaan menjadi boneka yang digunakan tanpa pandang bulu. Ulama-ulama didatangi hanya sebagai upacara ritual belaka, dimintai dukungan dan diminta mendoakan. Ulama juga akan berbaik hati, karena memang para ulama tidak akan berpihak. Mereka juga berada pada posisi yang dilematis.
Kini, kita sudah sangat dewasa. Kita bukan anak kecil yang bisa ditipu dengan topeng-topeng yang digunakan sebagai penghias wajah. Kita juga tidak begitu saja mau dikelabuhi dengan performa yang dibuat-buat. Tetapi kita sudah paham, politik hanya soal kepentingan. Mereka yang di bawah, berjuang mati-matian. Rela membela elit partainya, tetapi ternyata setelah selesai hajat besar pemilihan suara, elit bisa sedemikian mudahnya berkoalisi dengan partai lainnya. Meski tidak sevisi, meski tidak seidiologi. Lalu untuk apa dahulu harus berebut tempat memasang bendera, saling cemberut saat bertatap muka, hanya soal beda partai saja. Inilah politik, ini hanya soal kepentingan.
Maka kita tidak perlu heran bila hari ini jilbab menjadi mesin kampanye strategis. Bisa jadi besok lebih besar daripada jilbab. Karena politik hanya soal kepentingan saja.
