Ustadz Bachtiar Nasir Bagi Tips Mendidik Anak Hafal Al Quran

JAKARTA, muslimdaily.net – Kita semua tentu sangat bahagia jika anak-anak kita menjadi penghafal Al Quran.

Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir membagikan tips agar anak bisa menjadi hafiz Qur’an. “Pertama dari orang tua dulu”, jelas beliau dalam acara Launching Al Qur’an Qordoba for kids di Pancoran, Jakarta Selatan, Senin Malam, (12/3), demikian lansir aqlnews.com.

Motivasi orangtua harus kuat. Disebutkan dalam banyak riwayat bahwa anak yang Hafizh Qur’an itu akan menjadi jembatan masuk surga. Bahkan anak akan memakaikan mahkota dari cahaya kepada orangtuanya. “Ini adalah simbol bagi orangtua yang punya anak yang hafiz”, ungkapnya.

Dalam hal ini, kita jangan sampai memaksakan anak menjadi Soleh. Kita harus bisa mendidik dia dengan dunianya. Anak itu punya dunianya sendiri. “Jangan sampai dia kehilangan kemanusiaannya sebagai seorang anak. Anak itu lebih suka kalau lagi senang. Metode terbaik adalah dengan memotivasi dia dari hal-hal yang membahagiakannya” urainya.

Dalam mendidik anak jadi hafizh Qur’an jangan sering ancam dia dengan neraka, atau mengancam dia dengan hal-hal yang menakutkan anak. Misalnya, mengancam dia dengan pukulan jika tidak mengaji, menakuti anak dengan hal-hal yang membuat dia takut. Ha itu hanya akan membuat jiwanya tertekan dan pada akhirnya tumbuh dengan keterpaksaan dan malah menjauhi Al-Qur’an. “Motivasi dia kepada hal hal baik, jangan ke hal hal yang mengancam. Misalnya, katakan kepada anak, ‘suka ga kalau mamah masuk surga, atau mau ga bahagiain mamah?’”, jelasnya.

Metode kedua adalah lomba. Anak-anak sangat suka dengan perlombaan. Tapi ingat, ini hanya motivasi agar dia mau dekat dengan Al-Qur’an. Intinya lakukan perlombaan yang bisa membuat dia dekat dengan Al-Qur’an. “Misalnya, siapa yang duluan baca satu halaman, mamah akan kasih hadiah spesial. Ini akan memicu dia untuk dekat Al-Qur’an”, urainya.

90% alumni pesantren tahfidz hilang hafalannya setelah keluar. Penyebabnya karena salah metode sehingga memandang menghafal itu sebagai tekanan.

Menurut KH Bachtiar, kita harus mencontoh nabi dan para sahabat dalam mendidik anak-anaknya. Sebelum mereka mengajarkan Al-Qur’an terlebih dahulu diajak untuk beriman kepada Allah. Sebab jika telah beriman dengan sendirinya akan dekat dengan Al-Qur’an dan selalu termotivasi untuk menjadikan kitab suci itu sebagai pedoman hidup. “Kalau dia sudah menyenangi maka dia akan asik aja”, jelasnya.

“Berdongenlah sebelum tidur kepada anak yang diambil dari kisah Al-Qur’an. Banyak orangtua yang kehilangan jiwa anaknya karena terlalu keras dan tugas kita menumbuhkan iman kepada Al-Qur’an”, jelasnya.

Selain itu, orangtua wajib berkorban jika ingin memiliki anak hafiz Qur’an. Jangan hanya berangan dan terus berharap tapi tidak mau berkorban. Jangan pedulikan berapa biaya yang harus dikeluarkan, berapa waktu yang harus dihabiskan. Karena anak adalah aset dunia akhirat. Jangan sampai kita terlalu fokus mengejar dunia dan melupakan pendidikan Qur’an anak kita sendiri.

Kemudian tips ketiga adalah guru. Jika merasa tidak memiliki ilmu maka carikan guru terbaik buat anak. Seperti Hannah bin Faquz ibunda Maryam yang memilih Nabi Zakaria sebagai guru untuk anaknya.

Hal yang paling penting juga adalah doa. UBN bercerita bahwa dia tidak setuju dengan jargon ‘gantungkan cita-citamu setinggi langit. Menurutnya, cita-cita itu harus menembus eskalasi langit dan sampai ke Arsy Allah. Dan hanya doa yang bisa membawa harapan untuk menembus sampai kepada Allah.

Di akhir acara, salah seorang dari bertanya melalui siaran langsung facebook, ustad bagaimana kalau anak kita sudah candu dengan smartphone?

“Maka masuklah dari situ. Di sinilah dibutuhkan kreativitas orangtua. Jangan keras tapi dekati dengan hati lalu ajak kepada Al-Qur’an. Tetap berikan smartphone tapi hapus aplikasi yang bisa membuat dia lalai, seperti game. Isi smartphone dengan murottal atau video Al-Qur’an, dan hal-hal yang berbau islami lainnya. Intinya, biarkan anak pada dunianya dan didikalah untuk mencintai Al-Qur’an dari dunianya”, jawabnya.

Rahmadi

Rahmadi

kontributor, karyawan swasta, penerjemah freelance
share on: