Rohingya Hadapi Ramadhan Yang Sulit di Kamp Pengungsi

COX’S BAZAR, muslimdaily.net – Sebagai pengungsi Rohingya yang berusia 12 tahun, MD Hashim memimpikan Ramadhan kembali ke desanya sendiri, dengan ikan untuk berbuka puasa, hadiah dari keluarganya, dan bersantai di bawah pepohonan saat siang hari.

Tetapi bagi Hashim dan ribuan pengungsi Rohingya yang kini hidup dalam kemelaratan di Bangladesh dan negara-negara lain, awal bulan suci Islam secara pahit mengingatkan mereka tentang semua yang telah hilang sejak diusir dari Myanmar karena pembersihan etnis.

“Di sini, kita tidak dapat membeli hadiah dan tidak memiliki makanan yang baik … karena ini bukan negara kita,” kata Hashim pada 16 Mei di sebuah bukit tandus di distrik Cox’s Bazar, Chittagong, Bangladesh, demikian pemberitaan aboutislam.net.

PBB telah menggambarkan pembersihan tentara Myanmar terhadap minoritas Muslim Rohingya yang teraniaya sebagai pembersihan etnis, dan 17 ribu Muslim Rohingya diyakini telah dibantai dalam aksi yang dimulai Agustus lalu.

Duduk di dalam tenda plastik di hari yang terik, Hashim dengan senang hati mengingat kembali kesenangan sederhana yang membuat Ramadhan menjadi saat paling mengasyikkan sepanjang tahun di desanya.

Setiap malam, teman dan keluarga akan berbuka puasa bersama dengan hidangan daging yang dimasak hanya sekali setahun saat Ramadhan saja.

“Pakaian baru akan diberikan dan ditaburi dengan parfum tradisional yang disebut ‘attar’ untuk menandai perayaan itu,” katanya.

Pengungsi Rohingya dilarang bekerja karena pasar Bangladesh sudah jenuh dengan 163 juta penduduk, akan meningkatkan pengangguran di negara Muslim paling padat ke-2 di dunia ini. Selain itu terdapat banyak pos pemeriksaan militer yang membatasi mereka meninggalkan kamp pengungsian yang telah berkembang menjadi kamp pengungsi terbesar di dunia.

Para pengungsi Muslim mengandalkan bantuan lembaga amal untuk semuanya mulai dari makanan dan obat-obatan hingga pakaian dan bahan-bahan perumahan. Hasyim harus berjalan lebih dari satu jam dalam panas yang membakar untuk mencapai pasar terdekat.

Terlepas dari semua tantangan ini, Hashim menganggap dirinya beruntung, mampu merayakan bulan suci bersama keluarganya. Ada banyak anak-anak Rohingya lainnya yang melalui Ramadhan ini tanpa orang tuanya yang meninggal akibat pembersihan etnis di Myanmar.

“Meskipun kesulitan, Rohingya tidak akan meninggalkan keyakinan mereka, tidak peduli seberapa yang menantang keadaan mereka,” kata seorang imam Rohingya Muhammad Yusuf di kamp pengungsi.

“Ini akan sulit ketika matahari sangat panas, tetapi kita akan tetap puasa,” lanjutnya.

Rahmadi

Rahmadi

kontributor, karyawan swasta, penerjemah freelance
share on: