Muslim Di Ibukota Myanmar Juga Alami Diskriminasi dan Pelecehan

YANGON, muslimdaily.net – Hari demi hari, Muslim Rohingya di Yangon, ibukota komersial Myanmar, mengalami hilangnya kebebasan dan kesempatan, serta meningkatnya penganiayaan dan kebencian dari tetangga dan teman Buddha mereka.

Kekhawatiran melanda muslim Rohingya di Yangon setelah operasi militer di negara bagian Rakhine, dimana banyak desa dibakar dan muslim Rohingya dibunuh dan terusir.

“Ketika pertama kali melihat foto-foto itu (kekerasan di Rakhine, red), kami bertanya-tanya kapan akan giliran foto kami muncul di koran?”, Rahim Muddinn, 41 tahun, guru Muslim Rohingya yang berbicara dengan Time dalam sebuah wawancara pada hari Selasa 13 Februari, demikian lansir aboutislam.net.

Seperti kebanyakan Rohingya lainnya yang berbicara dengan The Associated Press (AP), dia menggunakan nama samaran karena alasan keamanan. Muddinn lahir dan besar di Yangon, jauh dari kampung halaman Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, di mana operasi militer berdarah telah membunuh lebih dari 1.000 Muslim dan menyebabkan hampir 700.000 orang Rohingya masuk ke kamp-kamp pengungsi di negara tetangga Bangladesh.

Meskipun Rohingya selalu teraniaya di negara mayoritas Buddha tersebut, ketegangan mulai meningkat pada tahun 2012 dan kekerasan meningkat lagi pada tahun 2016 ketika para pengungsi melaporkan pembunuhan dan pemerkosaan secara meluas oleh pasukan Myanmar.

Pada bulan Januari 2018, AP mengkonfirmasi, melalui wawancara dengan korban selamat, dan sejumlah video pembantaian dan setidaknya lima kuburan massal, yang sebelumnya tidak dilaporkan, di desa Gu Dar Pyin, Rakhine.

“Ketika saya mendengar sebuah motor menghidupkan mesinnya di dekat rumah saya setelah tengah malam, saya bertanya-tanya apakah seorang polisi datang untuk menahan saya,” Muddinn mengungkapkan ketakutannya.

“Istri saya, Amina, belum meninggalkan rumah sendiri sejak 2012 karena sakit hati dan takut setelah seorang Buddha meludahinya karena dia memakai cadar.”

Tidak Ada Hak Hidup, Tidak Ada Hak Politik

Seorang Muslim Rohingya lainnya, Ajas, seorang mahasiswa berusia 26 tahun di Yangon, mengatakan “Kata ‘Rohingya’ adalah hal yang berbahaya untuk disebut di negara ini. Pemerintah telah mencuci otak seluruh warga negara untuk berpikir bahwa kami adalah imigran ilegal. ”

Seperti sejumlah orang Rohingya lainnya, menolak untuk mengatakan nama lengkapnya untuk alasan keamanan.

Mohammad Warris adalah seorang mahasiswa Muslim Rohingya lainnya; dia biasanya menyembunyikan KTP nasionalnya di rumah. KTP yang digunakan untuk mendaftar ke sekolah, untuk mendirikan rekening bank, dan mendapatkan paspor, tidak bisa diganti tanpa sogokan besar karena pemerintah Myanmar telah lama mencoba membuat orang-orang Rohingya untuk melepaskan kewarganegaraan mereka.

Tidak hanya muslim dari etnis Rohingya saja yang mengalami diskriminasi. Muslim Myanmar dari etnis lain pun kerap mengalami hal yang sama. Bahkan para tokoh dan politisi Muslim mengalami teror hingga ancaman kematian.

Pada awal 2017, seorang pria bersenjata beragama Budha membunuh Ko Ni, seorang tokoh terkemuka minoritas Muslim Myanmar dan penasihat hukum untuk partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang berkuasa (NLD). Dia ditembak di kepala di bandara Yangon.

Ko Ni bukanlah berasal dari etnis Rohingya, telah mengkritik NLD pada tahun 2015 karena tidak mempresentasikan kandidat Muslim dalam pemilihan umum.

Rahmadi

Rahmadi

kontributor, karyawan swasta, penerjemah freelance
share on: