Penelitian yang dilakukan The Indonesian Regional Hydration Study (THIRST) menemukan sebanyak 46,1 persen penduduk Indonesia mengalami dehidrasi ringan karena rendahnya pengetahuan tentang fungsi air minum. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Penelitian THIRST, Prof.Dr.Ir Hardinsyah, setelah melakukan penelitian yang melibatkan sebanyak 1200 remaja dan dewasa di dataran rendah (Jakarta, Surabaya, Makassar) dan dataran tinggi (Lembang, Malang, Malino).
"Penyebab utama masalah ini adalah rendahnya pengetahuan tantang fungsi air bagi tubuh, kebutuhan air minum, manfaat air minum bagi kesehatan dan akses pada air minum." ujar Hardinsyah dalam acara jumpa pers dengan tema "Waspadai Efek Dehidrasi terhadap kesehatan" di Jakarta, Kamis (22/10).
Air merupakan bagian dari zat gizi dan sama pentingnya seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.
Namun hal ini sering dilupakan oleh masyarakat dan juga pemerintah selaku pengambil kebijakan. Peranan air sangat penting bagi tubuh manusia yang dapat berfungsi sebagai zat pembangun, sebagai pelarut, sebagai pengangkut nutrisi dan zat buangan hingga mengatur suhu tubuh seseorang.
Pentingnya kebutuhan air minum dapat menyebabkan gangguan fisik. Anak sekolah yang kekurangan air akan mengalami penurunan kemampuan kognitif dan beresiko mengalami gangguan ginjal di masa depan.
"Agar dapat berfungsi secara optimal, tubuh kita membutuhkan tingkat hidrasi yang baik dan adanya keseimbangan air di dalam tubuh guna memelihara kesehatan," tambah Hardinsyah yang juga Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melakukan edukasi ke sekolah-sekolah dan pendekatan kelembagaan yang berfungsi meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi air.
Ia menganjurkan, konsumsi air 2-3 liter atau 8-10 gelas per hari. "Semakin dini upaya pencegahan terhadap dehidrasi maka kondisi kesehatan usia produktif akan lebih baik," katanya.
[muslimdaily.net/erabaru]
