Data dunia menyatakan asma sebagai satu dari lima besar penyebab kematian, dengan total penederita sebanyak 300 juta orang. Di Indonesia sekitar 12 juta orang menderita penyakit yang ditandai dengan sesak. Bahkan di Indonesia, termasuk salah satu dari sepuluh penyakit penyebab kematian terbesar.Terapi asma dengan cara pengontrolan secara cerdas merupakan upaya untuk menurunkan angka kematian pada penderita asma. Hal tesebut disampaikan Prof Dr Faisal Yusuf, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dalam temu wartawan, Kamis (4/6) di Jakarta.
" Ketika asma tidak terkontrol, serangan penyakit itu dapat membatasi aktivitas penderitanya, bahkan berakibat fatal," ungkap Faisal.
Faisal mengatakan, di Jakarta lebih dari 90 persen kasus asma di Indonesia tidak terkontrol saat ini. Pengobatan bagi pasien asma sebaiknya tidak hanya mengatasi gejala tapi juga mengontrol asma disertai olah raga secara teratur.
Sayangnya, pemahaman masyarakat akan pentingnya pengontrolan bagi penderita asma masih sanggt kurang. Selain itu, ketergantungan pada obat pelega pernapasan menyebabkan penderita asma malas untuk melakukan terapi pemeliharaan untuh mencegah terjadinya eksaserbasi atau serangan kakekambuhan yang bisa berakibat fatal.
Faisal memaparkan, asma dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu asma tidak terkontrol, asma terkontrol sebagian dan asma sangat terkontrol. Asma tidak terkontrol ditandai munculnya serangan tiga kali atau lebih. Penderita mengalami gejala asma di pagi dan siang hari lebih dari dua kali seminggu seperti sesak napas, dada terasa berat dan batuk. Penderita terbangun tengah malam karena asma, aktivitas terbatas, fungsi paru di bawah normal, perlu obat pelega pernapasan lebih dari dua kali dalam seminggu.
Sedangkan gambaran asma terkontrol sebagian, penderita hanya sedikit sekali mengalami serangan asma dalam seminggu. Kemudian pada asma yang terkontrol dengan baik hampir tidak terjadi serangan pada siang hari. Penderita juga dapat melakukan aktivitas tanpa hambatan dan tidak ada gejala yang terjadi pada malam hari. Dengan berfungsinya organ paru secara normal maka penderita tidak perlu memakai terapi pelega.
Pengobatan
Lalu bagaimana mengobati asma? Pada dasarnya penanganan asma yang efektif adalah dengan menghindari faktor pencetus asma dan menggunakan obat asma untuk mengurangi peradagan saluran pernafasan. Untuk mengetahui faktor pencetus, sebaiknya penderita berkonsultasi pada dokter.
Karena asma adalah kondisi kronis, penderitanya membutuhkan penanganan jangka panjang dan terapi pengobatan. Jadi, pasien asma perlu obat untuk mengatasi serangan atau sebagai pelega yang dapat digunakan sehari-hari dan pengobatan untuk mengendalikan peradangan pada saluran pernapasan dan mencegah timbulnya gejala serta serangan asma sejak awal.
"Namun, saat ini perhatian masyarakat lebih ditujukan kepada bagaimana mengatasi serangan, meskipun obat pelega hanya mengobati serangan sesaat saja. Pada kenyataannya, peradangan pada bronkus dapat memicu kembali timbulnya serangan yang menyebabkan serangan asma dapat terjadi berulang kali. Hal ini bisa menurunkan kualitas hidup penderita," ujarnya.
Atas dasar itu, Inisiatif Global untuk Asma (Global Initiative for Asthma/GINA) mengeluarkan panduan tahun 2008 mengenai penatalaksanaan asma secara total lewat terapi kombinasi pemeliharaan dan pelega dalam satu tabung inhaler untuk melegakan pernapasan sekaligus mengatasi peradangan.
"Terapi inhalasi relatif tidak ada efek samping. Hal ini berbeda dengan obat oral yang memiliki banyak efek samping," kata Faisal. Namun harga obat kombinasi pemeliharaan dan pelega dalam satu kemasan masih relatif mahal.
Menanggapi permasalahan yang banyak dihadapi penderita asma, Yayasan Asma Indonesia memberikan akses bagi para penderita. Retno Ramansaman, Ketua YAI menyatakan pihaknya telah mendirikan apotik asma. Jadi, penderita asma bisa membeli obat-obatan asma tersebut dengan harga lebih murah daripada yang dijual di pasaran. (muslimdaily.net/dkr/rpblk)
