• Berita
    • Berita Lokal
    • Berita Dunia
    • Berita Ekonomi & Bisnis
    • Berita Teknologi
    • Berita Medis
    • Berita Sport
  • Artikel
    • Studi Islam
    • Info Manca Negara
    • Santai
    • Hukum
  • Opini
    • Special Feature
    • Opini
    • Wawasan Islam
  • Konsultasi
    • Syariah
    • Hukum
  • Wanita
  • Berita Anda
  • Surat Pembaca
  • Video
  • Download
  • Wisata
  • RSS
Home » Berita » Medis » Detail
AIDS Intai Generasi Muda
Diposting Sabtu, 29-11-2008 | 12:13:09 WIB

penderita aidsMasuknya pemikiran dan budaya kebebasan dalam negeri-negeri muslim dan menjadikan pemuda sebagai sasaran utamanya membuat budaya pergaulan bebas ala barat dan penyalahgunaan narkoba merasuk kedalam remaja Indonesia.

Tak ayal berbagai efek buruk pun mengintai para remaja, mulai dari hamil di luar nikah (perzinahan), penyalahgunaan narkoba, hingga menyebarnya penyakit AIDS/HIV yang belum ada obatnya. 

Gelombang penyebaran penyakit HIV/AIDS di Tanah Air terus menguat, terutama di golongan orang-orang muda dan produktif. Data Departemen Kesehatan menunjukkan hingga Juni 2008 terdapat sekitar 6.782 orang berusia 20-29 tahun yang mengidap AIDS.

Pengidap AIDS di kelompok usia ini adalah yang terbesar dibanding kelompok lain, karena peringkat terbesar kedua yakni usia 30-39 tahun pun hanya 3.539 orang. Generasi muda memang seolah sedang diincar oleh penyakit mematikan ini, dan celakanya lagi penyebaran penyakit sudah seperti fenomena gunung es. Yang muncul ke permukaan hanya secuil daripada yang sejatinya nyata di lapangan.

Selain fakta bahwa banyak anak muda yang mengidap HIV/AIDS, pola penyebaran juga harus menjadi perhatian utama dari penanganan penyakit ini. Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) terkait prevalensi HIV di Indonesia tahun 2007 menunjukkan bahwa sekitar 43-56 persen pengguna napza (narkotika, psikotropika, dan zat aditif) suntik, atau yang disingkat menjadi penasun, di empat kota yakni Medan, Jakarta, Bandung, dan Surabaya telah terinfeksi HIV.

"Penasun masih memiliki prevalensi HIV tertinggi di antara kelompok paling beresiko di Indonesia, yakni 55-56 persen di tiga dari empat kota yang mengumpulkan data biologis," kata  Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Prof Tjandra Yoga Aditama, Oktober lalu.

Menurut Tjandra, walau secara umum prevalensi HIV di masyarakat Indonesia masih cukup rendah, yakni 0,16 persen, tapi sejak tahun 1990-an telah terjadi peningkatan cukup dramatis pada kelompok bereiiko tinggi terutama penasun, pekerja seks komersial baik wanita maupun pria, waria, dan lelaki penyuka lelaki.

Interaksi populasi penasun yang terinteraksi HIV dengan populasi kunci lainnya memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap terjadinya peningkatan prevalensi HIV pada kelompok beresiko tinggi.

Survei tahun 2002 menunjukkan bahwa di kelompok penasun dilaporkan adanya hubungan seks tidak aman dengan pekerja seks, yakni sekitar 20-75 persen, dan pada tahun 2004 diperkirakan 10 persen penasun menjajakan diri sebagai pekerja seks.

"STBP tahun 2007 juga mendapati bahwa program layanan jarum suntik steril (LJSS) telah mencapai cakupan yang tinggi di beberapa kota, dan di kota-kota ini pemakaian jarum suntik bergantian cenderung lebih rendah," kata Tjandra.

Sementara itu sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nafsiah Mboi mengatakan bahwa program penanggulangan penyebaran HIV/AIDS harus difokuskan kepada generasi muda, karena 30 persen penasun adalah mereka yang berusia di bawah 20 tahun.

"Kita harus serius hentikan epidemi ini di kalangan generasi muda yang sangat beresiko terpapar HIV, yaitu mereka yang penasun, penyuka sesama lelaki, dan waria," ujar dia.

Berdasarkan perkiraan Depkes, pada tahun 2002 jumlah pengidap HIV di Indonesia adalah 110.000 orang. Lalu di tahun 2006 naik menjadi 193.000 orang, dan tahun 2007-2008 angka itu ditaksir naik hingga 270.000 atau sekitar 0,16 persen dari populasi nasional.

Nafsiah menambahkan, bila pencegahan pertumbuhan angka pengidap HIV gagal, maka biaya penyembuhan tentu akan membengkak, "Tahun 2008 saja pemerintah menganggarkan sekitar 70 miliar rupiah untuk mengidap HIV. Kita harus bisa mengubah norma yang berlaku umum di masyarakat tentang bagaimana lelaki jantan itu, lelaki jantan seharusnya bisa menjaga kesehatan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya," ujarnya

Nafsiah juga mendesak agar program-program penanggulangan AIDS mengutamakan pendekatan generasi muda. "Ini karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa 38 persen lelaki penyuka lelaki adalah mereka yang berusia di bawah 25 tahun. Waria juga 30 persennya berusia 15-24 tahun, prosentase yang sama untuk pengguna napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif) suntik, atau yang disingkat menjadi penasun," kata dia.

Kondisi ini juga tercermin dari keadaan di Jakarta. Data KPA Provinsi DKI Jakarta hingga Juni 2008, menunjukkan bahwa terdapat 3.123 orang yang positif menderita AIDS. Sekitar 73 persen di antaranya, yakni 2.278 orang, terpapar penyakit ini lewat pertukaran jarum suntik NAPZA.

Menurut Imam Mulyadi, ketua panitia peringatan Hari AIDS Sedunia 2008, di Jakarta, diperkirakan jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) sudah mencapai sekitar 33.000 orang. "Kami juga memperkirakan sekitar 1.072.098 orang laki-laki di Jakarta berisiko tinggi terpapar HIV karena gaya hidup mereka," tambahnya.

Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) terkait prevalensi HIV di Indonesia tahun 2007 juga menunjukkan bahwa sekitar 34 persen waria di Jakarta positif mengidap HIV, virus yang mengakibatkan sindrom penurunan ketahanan tubuh (AIDS). Angka ini terus naik sejak tahun 1995 yang hanya 0,3 persen, lalu di tahun 1996 menjadi 3,2 persen, dan enam persen di tahun 1997.

Prevalensi HIV pada waria di Jakarta pada tahun 2002 melonjak jadi 21,7 persen, tahun 2005 naik hingga menjadi 25 persen, dan tahun 2007 ditaksir sampai di titik 34 persen. Departemen Kesehatan memperkirakan jumlah waria di Indonesia pada tahun 2006 adalah 20.960 hingga 35.300 orang.

Bila di Indonesia saja datanya cukup mencengangkan, mengingat di negeri ini mayoritasnya adalah Muslim. Tentunya kembali ke ajaran agama yang benar dengan menjaga adab-adab pergaulan dapat menjadi tameng bagi generasi muda untuk jauh dari AIDS/HIV.

(rmd/kmps)




Tweet

Top View

  • Modus Pemurtadan, Kenalan di Facebook, Kabur, ...
  • Kondom dan Coklat Dalam Bingkisan Valentine di ...
  • Aktor Liam Neeson Pertimbangkan Masuk ...
  • Warga Yahudi Amerika Merasa Dihina dengan Iklan ...
  • Hingga Masjid di London pun tak Sanggup Menampung ...
  • Polisi Amerika Kini Pesan Senjata dari Produsen ...
  • Said Aqil Kembali Serang 'Wahabi'
  • Amir Imarah Islam Kaukasus: 'Jangan Bunuh Warga ...
  • Pemimpin Milisi Anti-Taliban Tewas dibom
  • Muslimah Inggris Belajar Beladiri

Latest Post

  • Uskup Agung Ortodoks Romawi Mengecam Zionis ...
  • (Opini Warga Suriah) Bagaimana Nasib Ummat Islam ...
  • Kondom dan Coklat Dalam Bingkisan Valentine di ...
  • Aktifis Islam Tolak Pemogokan Massal di Mesir
  • MUI Minta Pertandingan Bola di Tangerang Distop
  • Polisi Dukung Demonstran dalam Unjuk Rasa di ...
  • 60 Persen Koruptor di Indonesia Adalah Pegawai ...
  • Ulama NU Aceh Tegas Haramkan Valentine Day, MUI ...
  • Partai Islam Malaysia Kampanyekan Valentine Haram, ...
  • Zionis Israel Khawatir “Senjata Musuh” Jangkau ...

Advertising

Copyright ©2012 MuslimDaily. All Rights Opened
About | Contact Us | Info Iklan | Privacy Policy | Site Map | Banner | Term of Use | Donate Us | Rss Feed