Setelah dua bulan melaksanakan tugas kemanusiaan di Gaza Palestina, 2 relawan MER-C dr. Dany Kurniadi Ramdhan dan Bambang Sudarmaji Rabu/25 Maret 2009 lalu tiba di tanah air. Kepulangan ini dikarenakan masa izin cuti dr. Dany Kurniadi yang diberikan selama 2 bulan dari tempat ia menempuh pendidikan Kedokteran Spesialis Bedah Saraf FKUI telah selesai sejak tanggal 19 Maret 2009 lalu.
“Proses pengurusan tanah tinggal menunggu proses legalisasi surat tanah sehingga cukup dilakukan oleh 2 relawan yang masih berada di Gaza, yaitu dr. Arief Rachman dan Abdillah Onim,” ungkap dr. Dany ketika tiba di kantor MER-C pada hari Rabu lalu. “Mudah-mudahan proses ini bisa segera selesai sehingga Tim ke-3 yang terdiri dari para engineer bisa segera diberangkatkan ke Gaza untuk melakukan proses selanjutnya dari rencana pembangunan RS ini,” tambah dr. Dany yang juga pernah mengikuti misi kemanusiaan MER-C ke wilayah Perang Afghanistan.
Sebenarnya awal Februari lalu sempat ada himbauan dari Kemenlu Mesir agar semua relawan asing keluar dari Gaza sebelum tanggal 5 Februari 2009. Namun karena ada instruksi dari MER-C Pusat agar Tim tidak keluar dari Gaza sebelum ada kejelasan mengenai lokasi dan status tanah untuk RS, maka instruksi ini pun diikuti oleh relawan yang tergabung dalam Tim 2 MER-C untuk Palestina. Namun, karena pertimbangan efektifitas maka dari 6 relawan yang ada, 2 relawan diputuskan keluar dan 4 relawan tetap bertahan di Gaza. Dua relawan yang keluar dari Gaza adalah dr. Abdul Mughni, Sp.B. dan dr. Nurfarhanah Sp.PD yang keluar dari Gaza pada tanggal 4 Februari 2009. Sementara 4 relawan lainnya, yaitu dr. Arief Rachman (Ketua Tim), dr. Dany, Abdillah dan Bambang tetap bertahan di Gaza untuk melanjutkan program Rumah Sakit.Namun Dr. Dany dan Bambang mengaku Tim tidak menghadapi masalah berarti paska adanya himbauan dari Kemenlu Mesir tersebut baik ketika mereka masih berada di dalam Gaza maupun ketika keluar dari Gaza. “Semuanya kami serahkan kepada Allah,” ungkap dua relawan yang mengaku rindu untuk kembali ke Gaza.
Program Rumah Sakit Indonesia di Gaza
Menunggu mewarnai sebagian besar aktifitas misi Tim 2 MER-C untuk Palestina kali ini. Tahap emergency memang sudah lewat ketika Tim 2 masuk ke Gaza. Operasi dan kegiatan medis hanya dilakukan pada awal minggu pertama Tim berada di Gaza. Setelah itu, pasien-pasien sudah dapat ditangani oleh tenaga medis lokal khususnya di RS Syifa. Selebihnya fokus utama kegiatan Tim di Gaza adalah menindaklanjuti MOU Pembangunan Rumah Sakit yang sudah ditanda tangani pada hari Jum’at/23 Januari 2009 lalu antara Menteri Kesehatan Palestina di Gaza dengan Tim I MER-C yang mewakili rakyat Indonesia.
“Menunggu adalah tantangan terberat dari misi kali ini. Menunggu hasil proses negosiasi dengan Kementrian, menunggu keputusan dari MER-C Pusat, dll,” aku dr. Dany yang juga diamini oleh Bambang. Namun proses menunggu yang dilakukan Tim 2 selama hampir dua bulan sedikit demi sedikit mulai terjawab. Setelah Tim MER-C menyampaikan sejumlah pertimbangan dan hasil survai yang didapat Tim selama ini, Kementrian Kesehatan di Gaza akhirnya sepakat dengan model Rumah Sakit yang MER-C ajukan, yaitu Trauma Center dan Rehabilitasi. Begitupun dengan lokasi Rumah Sakit. Kementrian Kesehatan akhirnya juga menyetujui lokasi RS yang akan berada di Gaza Utara. Bahkan saat ini Kementrian Kesehatan di Gaza sedang membantu proses tukar tanah dan administrasi tanah RS yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara seluas 1 hektar. Saat ini dua relawan MER-C yang masih bertahan di Gaza, dr. Arief dan Abdillah, sedang menunggu selesainya surat tanah yang diperkirakan memakan waktu sekitar dua minggu.
Selain itu, satu hal unik yang mereka alami di Gaza menurut dr. Dany dan Bambang adalah hampir setiap kali mereka bertemu warga Gaza yang mengetahui bahwa mereka berasal dari Indonesia, maka warga Gaza tersebut akan memeluk mereka dengan hangat seraya berkata,”Terima kasih karena rakyat Indonesia telah mendukung perjuangan rakyat Palestina. Ini adalah Negara dan tanah kalian juga, jangan merasa asing di sini. Sampaikan salam kami untuk semua muslimin di Indonesia.” Itulah yang selalu diucapkan oleh warga Gaza.Semoga Rumah Sakit yang akan dibangun di Gaza nanti bisa menjadi salah satu bukti silaturahim rakyat Indonesia dengan rakyat Palestina.
Keluar dari Gaza
“Sekitar minggu ke-2 Maret kami mendapat informasi bahwa pada tanggal 18-19 Maret 2009 pintu perbatasan Rafah akan dibuka. Mendengar informasi langka ini, kami segera mencari tahu untuk memastikan kebenarannya. Alhamdulillah ternyata informasi tersebut benar adanya. Dr. Arief selaku Ketua Tim memutuskan untuk membagi Tim menjadi dua. Dr. Arief dan Abdillah tetap di Gaza untuk melanjutkan proses legalisasi tanah RS, sementara dr. Dany dan Bambang kembali ke Jakarta.
Pada hari ke-2 dibukanya pintu perbatasan Rafah, tepatnya Kamis (19/3), dr. Dany dan Bambang bergerak ke Perbatasan Rafah usai menunaikan sholat Dzuhur. Perjalanan dari RS Syifa tempat relawan MER-C selama ini menginap ke Perbatasan Rafah memakan waktu sekitar 1 jam 40 menit dengan menggunakan taksi. Pintu perbatasan hampir ditutup ketika 2 relawan MER-C ini tiba. Proses pengecekan visa di pintu perbatasan Palestina di Rafah Alhamdulillah tidak ada masalah sama sekali dan tidak dipungut biaya sepersen pun. Mereka hanya harus membayar 10 pound per orang untuk naik Bus Gaza City ke pintu perbatasan di Mesir.
Di pintu perbatasan Mesir ini barulah ada formulir-formulir aplikasi yang harus diisi yang kemudian dilanjutkan dengan proses pengecekan paspor. Proses pengecekan paspor inilah yang memakan waktu cukup lama sekitar 2 jam lebih. Biaya yang dikenakan pada proses ini sebesar 38 pound per orang untuk biaya kedatangan (arrival fee). Akhirnya pada pukul 18.00 waktu setempat, tim berhasil keluar dari pintu perbatasan Rafah menuju Kairo Mesir.[mer-c]
Sungguh Allah Maha Memudahkan Segala Urusan!!