Setelah penangkapan lima terdakwa pada bulan Juni lalu, tujuh tentara lainnya didakwa bulan lalu dengan dakwaan menutupi pembunuhan, menghalangi penyelidikan dan melakukan kekerasan terhadap tentara lain yang melaporkan pemakaian ganja diantara mereka. Sekitar 74 tuduhan langsung dikenakan terhadap 12 tentara tersebut, termasuk tuduhan memakai obat-obatan terlarang dan mengonsumsi alkohol.
Dari salah satu tuduhan yang paling serius, disebutkan pembunuhan yang terjadi diduga dilakukan oleh anggota dari satu brigade infanteri Stryker yang berbasis di propinsi Kandahar. Berdasar hasil penelitian dan beberapa dokumen penting, rencana pembunuhan warga sipil Afghanistan mulai bergulir setelah kedatangan Sersan Calvin Gibbs di Kandahar November tahun lalu, walaupun hal itu dibantah oleh salah satu anggota Stryker yang meyakini kalau Gibbs bukan dari kesatuannya.
Sejauh ini menurut penyidik, Gibbs, 25, tak lama setelah kedatangannya di Kandahar menyusun rencana dengan seorang tentara, Jeremy Morlock, 22, dan anggota lain dari kesatuan yang sama untuk membentuk ‘tim pembunuh". Sedangkan dalam tugas patroli yang mereka jalankan selama berbulan-bulan, mereka diduga telah menewaskan sedikitnya tiga warga sipil Afghanistan.
Menurut data yang terkumpul, target pembunuhan pertama bernama Gul Mudin yang terbunuh dengan cara dilempari granat dan ditembaki dengan senapan ketika para tentara memasuki desa La Mohammed Kalay pada bulan Januari silam.
Morlock dan tentara lainnya, Andrew Holmes saat itu berjaga-jaga di sebuah tanah lapang, ketika kemudian Mudin muncul dan berhenti di sisi lain dari tempat mereka. Gibbs kemudian melemparkan granat tangan milik Morlock ke sebuah tembok bangunan yang tidak jauh dari tempat Mudin berada, disusul kemudian oleh Holmes yang menembakkan senapannya ke tembok itu juga.
Kemudian di hari itu juga, Morlock diduga berkata kepada Holmes kalau pembunuhan tersebut hanya untuk bersenang-senang dan mengancamnya untuk tidak mengatakan kepada siapa pun.
Korban kedua bernama Marach Agha. Ia ditembak dan dibunuh pada bulan berikutnya. Gibbs diduga telah menembaknya dan kemudian menempatkan sebuah Kalashnikov di samping tubuhnya sebagai dalih untuk membenarkan pembunuhannya.
Pada bulan Mei, korban berikutnya bernama Mullah Adadhdad yang tewas setelah ditembak dan diserang dengan granat.
Pihak Angkatan Darat sebagai pucuk pimpinan brigade infanteri Stryker melaporkan setidaknya ada salah satu dari anggotanya yang sengaja mengumpulkan jari-jari korban sebagai suvenir dan beberapa dari anggota ada juga yang berfoto-foto disamping korban yang telah mereka bunuh.
Secara terpisah, lima tentara, Gibbs, Morlock, Holmes, Michael Wagnon dan Adam Winfield yang terkena tuduhan pembunuhan terhadap warga sipil tersebut menolak seluruh dakwaan pengadilan militer yang konsukwensinya berujung pada hukuman mati atau penjara seumur hidup.
Hingga saat ini, pihak pengadilan militer masih mempertimbangkan kasus tersebut hingga akhir bulan ini dan akan segera memutuskan apakah terdapat cukup bukti untuk melanjutkan pengadilan militer untuk seluruh terdakwa.
[muslimdaily.net/grd]
