Pimpinan tertinggi atau Grand Syeikh Al Azhar Mesir, Syeikh Mohammed Sayyed Tantawi meninggal dunia saat melakukan kunjungan di Arab Saudi, Rabu 10 Maret, demikian laporan kantor berita Mesir, MENA.
Syeikh Tantawi yang kini telah berusia 81 tahun berada di Riyadh untuk menghadiri penganugerahan King Faisal Awards.
Menurut berita saluran TV Mesir, Syeikh Tantawi mengalami serangan jantung saat berada di pesawat pada Rabu pagi dan sempat jatuh di tangga. Dia kemudian dibawa ke rumah sakit Amir Sultan di Riyadh, namun tidak tertolong dan dokter di rumah sakit tersebut mengatakan bahwa dia terkena serangan jantung. Jenazahnya kemudian direncanakan diterbangkan kembali ke Kairo pada Rabu malam.
Akan tetapi saluran TV yang berbasis di Doha, Qatar, Al Jazeera, mengutip Amir, anak tertua Syeikh Tantawi, bahwa kelurga menghendaki agar dia dimakamkan di Arab Saudi.
"keluarga memutuskan bahwa karena Tuhan telah menakdirkannya meninggal di Arab Saudi, maka dia akan dimakamkan di Al Baqie," demikian kata Amir Tantawi anak laki-laki tertua, Al Baqie adalah pemakaman di kota Madinah.
Syeikh Tantawi ditunjuk oleh presiden Mesir Hosni Mubarak untuk menjadi grand syeikh di Mesir pada tahun 1996.
Pendapat Kontroversial
Selama masa jabatannya menjadi pemimpin di Al Azhar, universitas tertua di dunia yang berdiri tahun 971 yang didahului dengan adanya masjid Al Azhar, Syeikh Tantawi kerap memunculkan berbagai pendapat yang kontroversial. Tidak mengherankan bila kemudian dia dianggap sebagai corong pemerintah Mesir.
Pada tahun 2004, dia mengejutkan masyarakat Islam dunia dengan mendukung keputusan pemerintah Prancis yang melarang penggunaan jilbab di sekolah dan institusi negeri. Waktu itu, dia memperbolehkan siswa muslimah melepas jilbab saat pergi ke sekolah.
Di tahun yang sama dia mendukung pendapat yang memperbolehkan seorang wanita menggugurkan kandungannya karena diperkosa, bahkan mufti Mesir Syeikh Jumaa pun menentang pendapat ini.
Pendapat kontroversi yang terakhir adalah pelarangan menggunakan cadar dilingkungan sekolahan Al Azhar dimana murid maupun gurunya wanita semua, dan menganggap bahwa cadar adalah sebuah tradisi dan tidak memiliki kaitan dengan ajaran Islam. Pendapat lain yang tak kalah kontroversinya adalah dukungannya terhadap keputusan pemerintah Mesir membangun tembok pemisah di perbatasan Gaza-Mesir untuk menghalau terowongan-terowongan yang dibuat penduduk Gaza.
[muslimdaily.net/iol]
