Di tengah adanya kampanye dan referendum anti kubah yang akan digelar hari Ahad besok, umat Islam di Swiss masih bisa merayakan salah satu hari raya umat Islam yakni Idhul Adha.
"Id bagi kami adalah waktu untuk bergembira dan bersatu," ujar Hisham Maizar, presiden dari Federasi Organisasi Islam di Swiss kepada IOL.
"Kami tidak akan berkecil hati karena kampanye (kelompok sayap kanan) yang penu kebencian."
Seperti kebanyakan negara lainnya, perayaan Idhul Adha di Swiss dilaksanakan mulai hari Jumat 27 November.
Pada hari Ahad, 29 November mendatang akan diselenggarakan referendum yang diusulkan oleh partai sayap kanan Swiss People’s Party/SVP, sebagai upaya mereka melarang kubah di Swiss.
Menurut SVP kubah merupakan simbol syariah dan tidak sesuai dengan hukum Swiss yang sekuler.
"Kami yakin bahwa masyarakat Swiss tidak akan memberi suara untuk proposal pelarangan kubah," tutur Maizar.
Rencana referendum ini sebenarnya telah ditolak oleh pemerintah, sebagian anggota parlemen dan partai besar di Swiss. Namun partai sayap kanan tersebut berhasil meng-golkan rencana referendum. Para uskup Katolik dan rabi Yahudi di Swiss pun juga meminta masyarakat menolak pelarangan kubah ini.
Lebih lanjut menurut Amnesti Internasional, bahwa masalahnya bukan terletak pada menara atau kubah, tetapi merupakan bentuk kebencian dan diskriminasi terhadap umat Islam di Swiss.
Tidak Ada Penyembelihan
Suasana Idhul Adha cukup terasa bagi umat Islam di Swiss. Sejumlah toko di daerah La Paix dekat Jenewa menjual berbagai makanan khas Arab, Turki dan beberapa negara balkan yang memiliki komunitas muslim yang banyak.
"Mereka ingin mengganggu Id kami dengan kampanye rasis mereka, namun kami tidak akan membiarkan mereka," kata Mustafa Kamal, seorang pemilik toko makanan halal.
"kami yakin bahwa masyarakat Swiss tidak akan ambil bagian dalam lelucon ini."
Akan tetapi masih ada kendala dalam perayaan Id di Swiss. Menurut hukum di Swiss, penyembelihan hewan tanpa ijin pemerintah dilarang. Oleh karena itu, umat Islam di sana hanya membeli hewan kurban lalu mengirimnya ke negara tetangga seperti di Prancis.
[muslimdaily.net/IOL]