• Berita
    • Berita Lokal
    • Berita Dunia
    • Berita Ekonomi & Bisnis
    • Berita Teknologi
    • Berita Medis
    • Berita Sport
  • Artikel
    • Studi Islam
    • Info Manca Negara
    • Santai
    • Hukum
  • Opini
    • Special Feature
    • Opini
    • Wawasan Islam
  • Konsultasi
    • Syariah
    • Hukum
  • Wanita
  • Berita Anda
  • Surat Pembaca
  • Video
  • Download
  • Wisata
  • RSS
Home » Berita » Internasional » Detail
Di Tengah Kampanye Rasis, Umat Islam Swiss Bersuka Cita Rayakan Idhul Adha
Diposting Jum'at, 27-11-2009 | 16:15:04 WIB

Di tengah adanya kampanye dan referendum anti kubah yang akan digelar hari Ahad besok, umat Islam di Swiss masih bisa merayakan salah satu hari raya umat Islam yakni Idhul Adha.

"Id bagi kami adalah waktu untuk bergembira dan bersatu," ujar Hisham Maizar, presiden dari Federasi Organisasi Islam di Swiss kepada IOL.

"Kami tidak akan berkecil hati karena kampanye (kelompok sayap kanan) yang penu kebencian."
Seperti kebanyakan negara lainnya, perayaan Idhul Adha di Swiss dilaksanakan mulai hari Jumat 27 November.

Pada hari Ahad, 29 November mendatang akan diselenggarakan referendum yang diusulkan oleh partai sayap kanan Swiss People’s Party/SVP, sebagai upaya mereka melarang kubah di Swiss.
Menurut SVP kubah merupakan simbol syariah dan tidak sesuai dengan hukum Swiss yang sekuler.

"Kami yakin bahwa masyarakat Swiss tidak akan memberi suara untuk proposal pelarangan kubah," tutur Maizar.

Rencana referendum ini sebenarnya telah ditolak oleh pemerintah, sebagian anggota parlemen dan partai besar di Swiss. Namun partai sayap  kanan tersebut berhasil meng-golkan rencana referendum. Para uskup Katolik dan rabi Yahudi di Swiss pun juga meminta masyarakat menolak pelarangan kubah ini.

Lebih lanjut menurut Amnesti Internasional, bahwa masalahnya bukan terletak pada menara atau kubah, tetapi merupakan bentuk kebencian dan diskriminasi terhadap umat Islam di Swiss.

Tidak Ada Penyembelihan

Suasana Idhul Adha cukup terasa bagi umat Islam di Swiss. Sejumlah toko di daerah La Paix dekat Jenewa menjual berbagai makanan khas Arab, Turki dan beberapa negara balkan yang memiliki komunitas muslim yang banyak.

"Mereka ingin mengganggu Id kami dengan kampanye rasis mereka, namun kami tidak akan membiarkan mereka," kata Mustafa Kamal, seorang pemilik toko makanan halal.
"kami yakin bahwa masyarakat Swiss tidak akan ambil bagian dalam lelucon ini."

Akan tetapi masih ada kendala dalam perayaan Id di Swiss. Menurut hukum di Swiss, penyembelihan hewan tanpa ijin pemerintah dilarang. Oleh karena itu, umat Islam di sana hanya membeli hewan kurban lalu mengirimnya ke negara tetangga seperti di Prancis.

[muslimdaily.net/IOL]




Tweet

Top View

  • Foto Kekejian Tentara Amerika di Irak Beredar
  • Pondok Ngruki Bangun Masjid Senilai 5 Milyar ...
  • Umar Media Rilis Video Eksekusi 15 Tentara ...
  • Pengkhianat Al Qaidah Irak Ditembak Mati
  • Aktivis Afghanistan: Kemenangan Taliban Lebih ...
  • Narapidana di Penjara Inggris Berbondong-bondong ...
  • Modus Pemurtadan, Kenalan di Facebook, Kabur, ...
  • Aktor Liam Neeson Pertimbangkan Masuk ...
  • Polisi Amerika Kini Pesan Senjata dari Produsen ...
  • Bedah Buku Kritik dan Koreksi Deradikalisasi BNPT ...

Latest Post

  • Amir Imarah Islam Kaukasus: 'Jangan Bunuh Warga ...
  • Toko Daging Halal Tumbuh di Kanada
  • Muslimah Inggris Belajar Beladiri
  • Warga Yahudi Amerika Merasa Dihina dengan Iklan ...
  • Khawatir Serangan Balasan dari Abu Sayyaf, Militer ...
  • Kelompok 'Teror Big Ben' Bisa Bebas Kurang dari ...
  • Kuwait Selenggarakan Pemilu Parlemen
  • Kubah atau Tanpa Kubah, Muslim Eksplorasi Desain ...
  • Kepala Babi Ditemukan Lagi di Depan Masjid
  • Korupsi Haram, Pelaku Korupsi Memprihatinkan

Advertising

Copyright ©2012 MuslimDaily. All Rights Opened
About | Contact Us | Info Iklan | Privacy Policy | Site Map | Banner | Term of Use | Donate Us | Rss Feed