Moskow - Mujahidin yang tergabung dalam tandzim bentukan Shamil Basayev, Brigade Riyadhus Shalihin mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom di Kaukasus Utara yang melukai presiden Inghus dan menewaskan tiga bodyguardnya , kondisi presiden sampai saat ini masih kritis dan dirawat di rumah sakit. Statement itu muncul di website grup tersebut hari Ahad.
Brigade Riyadhus Shalihin menyatakan serangan terhadap presiden Inghus pekan lalu karena presiden tersebut mendukung kebijakan Kremlin dan atas perannya terlibat perang di bumi Chechya jilid ke dua tahun 1999.
"Operasi ini untuk menunjukkan kepada Kremlin dan para budaknya bahwa Mujahidin Kaukasus mempunyai kewenangan legal di sini dan kami tidak akan pernah menerima hukum buatan para musuh dan penjajahan mereka", demikian isi pernyataan tersebut.
Pernyataan tersebut di-posting dengan bahasa Rusia di website yang sudah lama dikenal sebagai media penyambung pesan-pesan mujahidin di Kaukasus Utara.
Pejabat berwenang Rusia enggan menanggapi statement pihak mujahidin tersebut.
Bom istisyhad mengenai konvoi presiden Inghus Yunus Bek Yevkurov saat bepergian pada tanggal 22 Juni lalu. Dua bodyguard tewas seketika pada saat itu dan bodyguard ketiga meninggal Sabtu kemarin setelah dirawat di rumah sakit.
Yevkurov dulunya adalah pejabat intelejen militer sebelum akhirnya dipakai Kremlin sebagai presiden boneka di wilayah Inghus, saat ini kondisinya masih kritis di rumah sakit Moskow.
Brigade Riyadhus Shalihin merupakan salah satu kelompok jihad di bumi Checnya yang dipimpin oleh Shamil Basayev hingga tahun 2006. Kelompok ini berada di balik serangan-serangan mematikan yang menimpa pihak Rusia. Setelah Shamil Basayev syahid kelompok ini seperti menghilang, namun di tahun ini Amir Imarah Islam Kaukasus Dokka Umarov pernah menyatakan akan "menghidupkan" kembali tandzim saudara mereka Shamil Basayev yaitu Brigade Riyadhus Shalihin, dengan dukungan para pejuang dari beberapa negara Arab.
Pemerintah Amerika pada tahun 2003 telah memberikan sanksi kepada brigade ini, Dewan Keamanan PBB juga mengikuti langkah Amerika memberi sanksi kepada kelompok ini.
Sementara itu di perbatasan Checnya hingga ke wilayah timur, pasukan polisi terlibat pertempuran dengan mujahidin dalam serangan tengah malam, dalam serangan ini dikabarkan satu polisi tewas. Serangan pada hari Sabtu terjadi di Makhachkala, dimana 10 mujahidin berusaha mengepung sebuah rumah sembari menembaki rumah tersebut. Juru bicara kementrian Dalam Negeri Mark Tolchinsky mengatakan seorang polisi tewas setelah serangan berhenti.
Petugas keamanan kemudian memanggil bantuan udara dan kendaraan tempur untuk menggempur hutan di sekitar desa tersebut yang disinyalir sebagai tempat persembunyian mujahidin.
Awal bulan Juni ini, mujahidin juga menewaskan salah satu pejabat dewan pemerintah Dagestan saat dia sedang menghadiri jamuan pesta pernikahan di Makhachkala.[muslimdaily.net/ctv]
