Dalam memasuki pembiayaan usaha mikro perbankan syariah memerlukan strategi dan infrastruktur yang memadai. Kepala Divisi Riset dan Manajemen Proyek Karim Business Consulting, Alfi Wijaya, mengatakan usaha mikro memiliki cara layanan yang berbeda dan harus dilakukan secara massal.“Untuk masuk ke sana butuh waktu dan persiapan seperti infrastruktur, kantor dan SDM,” ujar Alfi kepada Republika. Jika bank berkomitmen untuk fokus ke sana, lanjut Alfi, setidaknya membutuhkan waktu antara satu sampai 1,5 tahun untuk mempersiapkan infrastruktur teknologi, SDM, dan jaringan.
Dalam mengembangkan segmen pembiayaan ke mikro, terang Alfi, juga diperlukan konsistensi dalam menjalankannya. “Saat memutuskan masuk ke mikro jangan setengah-setengah karena dia mempunyai nature berbeda dengan sektor lainnya. Jadi harus tetap dipertahankan dan maintenance apa yang sudah ada,” ujar Alfi.
Alfi mengatakan setidaknya ada lima hal yang membuat usaha mikro tetap menarik. Pertama, usaha mikro memiliki potensi pasar besar karena jumlahnya banyak dan terbukti usaha tersebut tetap bertahan dari krisis ekonomi. Kedua, margin pembiayaan bisa lebih tinggi dan menguntungkan bank dibanding pembiayaan lain. “Marginnya biasanya bisa sampai 15-16 persen jadi menguntungkan juga buat bank,” kata Alfi.
Hal ketiga, usaha mikro tak terlalu sensitif terhadap pricing yang diberikan, padahal jika dihitung memiliki persen yang lebih tinggi. Keempat, memiliki loyalitas tinggi. “Nasabah mikro jika sudah percaya satu bank tidak akan pindah. Berbeda dengan korporasi yang memperhitungkan margin yang diberikan setiap bank,” kata Alfi.
Hal terakhir yang membuat usaha mikro tetap menarik adalah dukungan regulator dan pemerintah kepada lembaga keuangan untuk membiayai segmen usaha mikro.
Untuk pembiayaan ke usaha mikro saat ini sebagian besar perbankan syariah menyalurkan melalui linkage program dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) atau Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Bank syariah yang saat ini fokus mengembangkan usaha mikro adalah Bank Mega Syariah (BMS) melalui Mega Mitra Syariah.
Direktur Bisnis BMS, Ani Murdiati mengatakan layanan yang diberikan melalui Mitra Mega Syariah memiliki proses cukup cepat, dimana dalam waktu empat hari uang akan cair. “Dalam memasarkan produk kita juga melakukan direct selling dengan mendatangi langsung para nasabah mikro,” kata Ani.
Mega Mitra memiliki dua produk yaitu M50 dan M500. M50 adalah pembiayaan di bawah Rp 50 juta dan non collateral, sementara M500 adalah pembiayaan maksimal Rp 500 juta dan harus memiliki jaminan. Hingga kuartal I tahun ini Mitra Mega menyumbang outstanding pembiayaan sebesar Rp 1,2 triliun dari total pembiayaan Rp 2,3 triliun. Per Maret 2009 BMS mencatat total asset Rp 3,3 triliun dan DPK Rp 2,9 triliun.
BMS menargetkan membuka 300 outlet Mega Mitra Syariah tahun ini. Di semester pertama 2009 BMS membuka 210 outlet Mega Mitra, sementara sisanya akan diselesaikan pada semester kedua. Di bulan ini, lanjut Ani, outlet Mega Mitra di Pontianak beroperasi setelah mendapat izin dari BI. (muslimdaily.net/rmd/rpblk)
