Alhamdulillah pada hari Selasa ( 24/02/2012 ) penulis diberi Allah kemudahan untuk menjenguk KH Abu Bakar Ba’asyir di Rutan Bareskrim Mabes Polri. Beliau masih semangat dan berapi-api untuk membeberkan berbagai macam kerusakan dan makar orang-orang kafir dalam membusukkan Islam dari dalam maupun dari luar tubuh umat Islam.
Sikap tegas KH Abu Bakar Ba’asyir dalam melawan hegemoni system yang menyengsarakan umat Islam dan peradabannya adalah sebuah sikap langka dan sangat jarang ditemui di dalam diri orang-orang yang mengaku pemimpin umat, ulama dan aktivis Islam. Mereka rata-rata masih takut menyuarakan kebenaran, malu-malu berbicara jujur takut ditinggalkan pendengar dan pengikutnya bahkan yang lebih gila lagi menutupi kebenaran untuk mendapat ridho dari orang-orang kafir. Tindakan yang sangat disesalkan dari orang-orang yang disebut tokoh Islam.
Dengan bercermin kepada sosok KH Abu Bakar Ba’asyir, kita sebagai pemuda yang mengaku untuk terus bersama kebenaran dan berniat memperjuangkan kebenaran habis-habisan, seharunya malu bila sampai berhenti di tengah jalan, mundur ke belakang atau yang lebih parah lagi menusuk kawan seiring dan seperjuangan. Melihat fisik KH Abu Bakar Ba’asyir yang menua namun di raut mukanya mengelora semangat juang kaum muda, adalah lecutan bagi para pemuda untuk tidak mengenal kata “lelah” dan “menyerah” dalam memperjuangkan Islam di tengah kepungan berbagai macam godaan yang setiap saat mengintai untuk mengajak berhenti dari jalan kebenaran ini.
Dan yang lebih penting dari itu semua adalah, bagaiman kita bisa menghadirkan kembali sosok KH Abu Bakar Ba’asyir dalam jiwa-jiwa kaum muda, mencetak kader-kader yang teguh seperti beliau dan membangun umat yang siap memikul tanggung jawab keumatan sekuat sosok KH Abu Bakar Ba’asyir yang sampai hari ini penulis belum bertemu dengan sosok fenomenal seperti beliau. Tugas pemuda untuk menghadirkan kembali sosok seperti beliau dalam kancah pergerakan Islam yang makin komplek permasalahannya dewasa ini.
Ini sekelumit kisah penulis yang mencoba membaca apa yang tidak diucapkan oleh KH Abu Bakar Ba’asyir, yang terbaca dari cara beliau berbicara, dari bahasa tubuh beliau yang bisa ditangkap oleh penulis. Keinginan kuat, semangat yang tak pernah padam dan selalu menetapi prinsip adalah rangkuman yang bisa penulis hadirkan dari membaca sosok KH Abu Bakar Ba’asyir.
Terakhir, penulis berharap beberapa tahun lagi lahir sosok-sosok seperti beliau yang mengelorakan dakwah dan jihad di bumi Nusantara ini, hingga tidak ada syariat yang boleh tegak kecuali syariat Allah SWT saja.
Wallahu a’lam
Hanif Abdullah
