Oleh : Eza Ahim Iki
"I believe that banking institutions are more dangerous to our liberties than standing armies. If the American people ever allow private banks to control the issue of their currency, first by inflation, then by deflation, the banks and corporations that will grow up around [the banks] will deprive the people of all property until their children wake-up homeless on the continent their fathers conquered. The issuing power should be taken from the banks and restored to the people, to whom it properly belongs." - Thomas Jefferson
Dalam konstelasi pengandaian ada kemungkinan yang sangat luas hampir tidak ada batas, akan tetapi ketika pengandaian itu diikat dalam sebuah materi aktual bernama kenyataan, segala kemungkinan itu segera berubah menjadi batasan - batasan pasti sesuai dengan kadar dan jenis kenyataan itu sendiri. Dan ketika saya atau anda berandai - andai menjadi gubernur BI, maka sungguh musykil jika kemudian dengan jabatan itu kita memerintahkan seluruh kompi pasukan TNI angkatan darat agar diberhentikan secara tidak terhormat, misalnya. Karena sudah barang tentu hal yang demikian bukanlah menjadi wewenang seorang gubernur BI.
Sudah lumrah tentunya ketika kita "mengandaikan" diri kita menjadi seorang Gubernur, maka hal pertama yang kita andaikan adalah "apa yang akan saya perbuat dengan jabatan ini ? ". Sebutlah dari sekian banyak jawaban yang optimis lagi idealis seperti "saya akan perkuat nilai mata uang rupiah", "saya akan perketat pengawasan terhadap laju peningkatan bunga bank", "saya akan tindak tegas segala bentuk penyalahgunaan wewenang dalam dunia perbankan indonesia yang telah dan akan merugikan rakyat indonesia" dan lain - lain.
Tapi sungguh sedih jika kita sadar dan paham betul bahwa pada kenyataannya, pengandaian kita tidak sepadan dengan wewenang yang dimiliki "seorang" Gubernur BI.
Dari sejak awal muncul sebagai benih, nama kita diusulkan oleh Presiden dan entah siapa yang membisiki Presiden sehingga nama kita diusulkan menjadi salah satu calon yang kemudian diserahkan ke Dewan Perwakilan Rakyat (dalam hal ini komisi XI) untuk kemudian diuji dan kemudian direstui sehingga kita kembali ke Presiden untuk kemudian dilantik. Ketika jabatan sudah dipangkuan dan wewenang ada dalam genggaman, kini kita akan dihadapkan pada RDG (Rapat Dewan Gubernur) yang tidak akan pernah membiarkan kita membuat sebuah keputusan tanpa kerelaan dan persetujuan mereka. Mungkin di titik ini anda akan sangat mendambakan indahnya bertindak "otoriter".
Menurut pandangan subjektif saya sebagai pribadi, menjadi "seorang" gubernur BI itu seperti seongok boneka yang mengikuti komando dari tali temali yang mengikatnya. Biasanya tali temali ini disebut dengan "kepentingan politik", "kepentingan bisnis kelompok tertentu", bahkan ada juga "kepentingan asing" dalam setiap pengambilan keputusan yang dibuat.
Otonomi khusus yang dimiliki BI sebagai lembaga kemudian justru menjadi pepesan kosong ketika para pengambil keputusan yang bekerja didalamnya justru tidak memiliki visi dan misi yang "otonom". Cukuplah kiranya kasus yang menimpa Miranda Swaray Goeltom menjadi contoh, atau mungkin kalau anda mencari versi lawas, saya bisa ingatkan anda tentang kasus BLBI yang sampai detik ini belum jelas seperti apa akhirnya.
Jika kita menilik kembali kata - kata yang disampaikan Thomas Jefferson, dan kemudian menarik benang merah atas apa yang terjadi di negeri kita ini, maka bisa saya pastikan, bahwa kebanyakan dari kita sebagai rakyat Indonesia telah lahir sebagai budak dinegeri yang telah "dimerdekakan" oleh nenek moyang kita.
Berapa banyak dari kita yang terjebak dalam pusaran interest kartu kredit? berapa banyak bantuan pinjaman lunak yang telah diberikan untuk usaha kecil dibanding dengan pinjaman spektakuler yang diperuntukan untuk segelintir pengusaha yang memiliki "kemesraan" khusus dengan pemerintah? siapa yang dilindungi BI dari dampak buruk inflasi? rakyat banyak? atau segelintir pengusaha kaya?. Dan sejuta pertanyaan lain yang kemudian mereka jawab dengan rumusan ekonomi canggih yang hanya berfungsi untuk mengelabui dan menutupi bobroknya sistem yang mereka jalankan.
Entah apa alasan rakyat Indonesia ini begitu toleran dan begitu sabar ketika hampir 80% dari kekayaan yang menjadi hak kita dirampas tepat didepan hidung kita. ketidaktahuan? atau justru ketidakmautahuan?, anda yang tahu jawabannya.
Saya punya kata - kata yang sangat saya sukai:
three things you should never mess with.Never mess with another man's woman. Never mess with another man's ego. And most importantly you never mess with another man's MONEY, else the man will mess with you.
Dan sebagai penutup saya sampaikan dengan gamblang, seandainya saya menjadi gubernur BI, maka saya pasti akan jadi bandit, entah itu karena terpaksa ataupun sukarela.
Bandit tetap bandit
