Shalihnya Pekerja Bengkel
Papua merupakan bumi Allah yang dihuni beragam agama dan etnis. Pulau yang menantang bagi yang menyukai tantangan. Bisa dibilang pulau ini surga bagi para pendatang. Banyak yang berdatangan ke kawasan timur negeri kita ini untuk merubah nasib, mencari kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya. Betapa tidak, menurut khalayak, mencari duit di sini lebih gampang dibandingkan di daerah asal. Harga-harga memang serba mahal, tetapi sesuai dengan penghasilan. Bila di Jakarta saja masuk warung dengan 5000 Rupiah sudah kenyang, di sini harus merogoh kocek 10.000 ke atas. Nasi ayam 13.000 lebih. Es teh bisa Rp 3000 sampai 5000. So, jangan harap masuk warung dengan bekal 5000 perak. Anda akan cuma dapat nasi putih tanpa lauk doang.
Alasan di atas jadi motif utama Joko menginjakkan kaki di Papua. Pria yang bernama lengkap Sujoko Prasetyo datang kurang lebih setahun yang lalu. Dia diajak oleh keluarganya yang lebih dahulu datang dan berusaha di sini. Joko yang masing muda ini berani mengarungi lautan memperjuangkan nasib datang ke tanah Papua. Kini ia tinggal dan bekerja bersama keluarganya itu di Kotaraja Kota Jayapura.
Joko bekerja di sebuah bengkel yang dikelola oleh keluarganya sendiri. Pria lulusan SMK tahun 2007 ini sebelumnya pernah ke Jakarta sebelum ke Papua. Namun takdirlah yang membawanya kesini. Sama halnya dengan saya yang 2 tahun kuliah di Ma’had Aly An-Nu’aimy Jakarta yang kini tengah bertugas menyelesaikan Khidmah (pengabdian) setahun di bumi Cendrawasih. Dengan izin Allah akhirnya kami pun berjumpa.
Saya berkenalan dengannya di salah satu masjid di Kotaraja. Saya melihatnya sebagai jamaah tetap, terutama waktu Subuh, Magrib, dan Isya. Bengkel tempatya bekerja ternyata berjarak hanya beberapa meter dari masjid. Saya jadi maklum, Dzuhur dan Ashar berarti dia masih bekerja. Jadi waktu-waktu senggang dia sempatkan berjamaah di masjid.
Itulah kesan pertama yang saya dapat dari Joko, pekerja bengkel yang tenyata shalih. Sehabis shalat disempatkannya wirid alias berzikir dan berdoa dahulu. Tidak pernah saya menjumpainya ba’da shalat langsung angkat kaki. Saya cukup terkesan dengan kebiasaan baiknya itu. Bila berpapasan kembali tidak lupa ia menyapa atau saya dulu yang menyapanya.
Saya lalu berinisiatif mengajaknya ikut kajian pekanan yang saya adakan bersama beberapa orang mahasiswa. Dia pun setuju. Hampir tiap kajian saya menjemputnya karena dia tidak punya kendaraan. Kami kemudian berkumpul di masjid yang cukup jauh dari kediamannya. Setelah beberapa pertemuan, pemuda asli Banyuwangi ini bisa beradaptasi dengan mahasiswa. Awalnya sempat canggung karena dialah salah satu pekerja yang hadir saat itu. Namun beberapa pekan berlalu, semuanya mengalir seperti air saja.
Hal lain yang membuat saya berkesan ternyata pengetahuan pemuda ini tentang agama lumayan juga. Tidak jarang ia mengutip pendapatnya berdasarkan buku yang dia baca atau ceramah yang dia dengar. Lebih hebat lagi dia bisa mengutip dalil dari Al-Qur’an. Mushaf Al-Qur’an miliknya saya akui cukup refresentatif, mushaf tajwid dan terjemah plus asbabun nuzul terbitan Magfirah Pustaka. Beberapa rekan mahasiswa berhasil dia imbangi, bahkan diunggulinya. Kajian yang saya pegang memang tidak melulu domain saya. Saya memberi keleluasaan kepada peserta untuk berargumen. Saya hanya menengahi dan meluruskan saja.
Pekerja bengkel yang shalih dan cukup alim ini enggan menyebut gajinya. Dia hanya berkata, “Saya cuma dikasi makan 3 kali dan sedikit uang untuk belanja saja kok mas.” Dia mengaku tidak suka menonton televisi. “Saya lebih suka membaca dan tadabbur mas. Kalau di bengkel lagi sepi, saya mending baca aja.” Ungkapnya polos. Terbukti, saat saya ganti oli ke bengkelnya, saya “memergokinya” tengah asyik membaca siroh para sahabat radhiallohu anhum.
Itulah Sujoko Prasetyo. Seorang pemuda ulet, shalih, dan alim yang memberikan kesan positif di mata saya. Diusia 21 tahun dia nekat meninggalkan orangtua tercintanya di Banyuwangi sana untuk belajar hidup mandiri di tanah asing yang dulunya mungkin tak terlintas di bayangannya. Dialah potret pekerja bengkel yang langka karena taqwanya. Gajinya dia sisihkan untuk membeli buku-buku untuk menyirami dahaganya akan agama. Semoga istiqamah akhi. Doaku menyertaimu. Barokallohu tula hayatika. Amin!
Habib Ziadi, S.Pdi
Alumnus Isy Karima dan An-Nu'aimy Jakarta
[muslimdaily.net]
