Fatwa Ibnu Taimiyah Seputar Puasa

Diposting pada Jum'at, 21-08-2009 | 17:00:48 WIB

FATWA IBNU TAIMIYAH SEPUTAR PUASA

Beliau ditanya tentang hukum berkumur dan memasukkan air ke rongga hidung (istinsyaq), bersiwak, mencicipi makanan, muntah, keluar darah meminyaki rambut dan memakai celak bagi seseorang yang sedang berpuasa;

Jawaban beliau : "Adapun berkumur dan memasukkan air ke rongga hidung adalah disyari'atkan, hal ini sesuai dengan kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya juga melakukan hal itu, tetapi beliau berkata kepada Al-Laqiit bin Shabirah :

"Berlebih-lebihanlah kamu dalam menghirup air ke hidung kecuali jika kamu sedang berpuasa. " (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasaa'i dan Ibnu Maajah serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak melarang istinsyaq bagi orang yang berpuasa, tetapi hanya melarang berlebih-lebihan dalam pelaksanaannya saja.

Sedangkan bersiwak adalah boleh, tetapi setelah zawal (matahari condong ke barat) kadar makruhnya diperselisihkan, ada dua pendapat dalam masalah ini dan keduanya diriwayatkan dari Imam Ahmad, namun belum ada dalil syar'i yang menunjukkan makruhnya, yang dapat menggugurkan keumuman dalil bolehnya bersiwak.

Mencicipi makanan hukumnya makruh jika tanpa keperluan yang memaksa, tapi tidak membatalkan puasa. Adapun jika memang sangat perlu, maka hal itu bagaikan berkumur, dan boleh hukumnya.

Adapun mengenai hukum muntah-muntah, jika memang disengaja dan dibikin-bikin maka batal puasanya, tetapi jika datang dengan sendirinya tidak membatalkan. Sedangkan memakai minyak rambut jelas tidak membatalkan puasa.

Mengenai hukum keluar darah yang tak dapat dihindari seperti darah istihadhah, luka-luka, mimisan (keluar darah dari hidung) dan lain sebagainya adalah tidak membatalkan puasa, tetapi keluarnya darah haid dan nifas membatalkan puasa sesuai dengan kesepakatan para ulama.

Adapun mengenakan celak (sipat mata) yang tembus sampai ke otak, maka Imam Ahmad dan Malik berpendapat: Hal itu membatalkan puasa, tetapi Imam Abu Hanifah dan Syafi'i berpendapat: hal itu tidak membatalkan. (Lihat Majmu' Fataawaa, oleh Ibnu Taimiyah, 25/266-267. Wallahu A 'lam.

Ibnu Taimiyah menambahkan dalam "Al-Ikhtiyaaraat": "Puasa seseorang tidak batal sebab mengenakan celak, injeksi (suntik), zat cair yang diteteskan di saluran air kencing, mengobati luka-luka yang tembus sampai ke otak dan luka tikaman yang tembus ke dalam rongga tubuh. Ini adalah pendapat sebagian ulama. (Lihat Al Ikhtiyaraatul Fiqhiyah, hlm. 108) Wallahu A 'lam '

Artikel-Artikel Lain Seputar Puasa Ramadhan:

  1. Sebab-Sebab Ampunan Di Bulan Ramadhan
  2. Puasa Yang Sempurna
  3. Berpuasa Tapi Meninggalkan Shalat, Nah Lho?
  4. Manfaat Puasa
  5. Pelajaran Dari Ayat-Ayat Tentang Puasa Ramadhan
  6. Anjuran dan Keutamaan Do'a Di Bulan Ramadhan
  7. Tafsiran Ayat-Ayat Tentang Puasa
  8. Golongan Yang Boleh Tidak Berpuasa Ramadhan
  9. Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa
  10. Shadaqah Di Bulan Ramadhan
  11. Keutamaan Bulan Ramadhan dan Puasa Ramadhan
  12. Qiyam Ramadhan (Shalat Tarawih)
  13. Hukum-Hukum Yang Berkaitan Dengan Puasa Ramadhan, dan Sunah-Sunahnya
  14. Membaca Al Quran di Bulan Ramadhan
  15. Zakat Fitrah
  16. Fatwa As Saadi Seputar Puasa
  17. Fatwa Ibnu Taimiyah Seputar Puasa
  18. Fatwa Rasul SAW Mengenai Puasa Ramadhan
  19. Nasehat dan Rambu-Rambu Serta Catatan Penting Seputar Ramadhan
  20. Berpisah Dengan Ramadhan
  21. Lailatul Qadr
  22. Sepuluh Hari Akhir di Bulan Ramadhan
  23. Rahasia Puasa
  24. Keutamaan Puasa Syawal
  25. Hari Raya