Hikmah Nabi Membina Sahabat Yang Berusia Muda

Bagi yang menelaah kiprah Rasulullah –tanpa bermaksud mengecilkan peran sahabat yang sudah berusia tua- maka salah satu yang menjadi faktor penunjang keberhasilan beliau –atas izin Allah- adalah keberadaan para pemuda di sekelilingnya.

Dr. Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisyi dalam kitabnya yang berjudul Syababu Ash-Shahabah (Para Pemuda di kalangan Sahabat) menyebutkan ada 220 sahabat yang masih berusia muda ketika masuk Islam. Belum lagi sahabat-sahabat muda lain yang masih belum diungkap.

Melihat betapa pentingnya pemuda, maka ada setidaknya beberapa langkah strategis yang dicanangkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam. Pertama, membidik pemuda-pemuda potensial. Sebagai contoh, Ali bin Abi Thalib (10 tahun), Utsman bin Affan (35 tahun), Umar bin Khattab (31 tahun) Sa`ad bin Abi Waqash (17 tahun), Zubair bin Al-Awwām (15 tahun), Thalha bin Ubaidillah (16 tahun), Asma binti Abu Bakar (14 tahun) radhiyallahu ‘anhum dan lain sebagainya.

Ada catatan menarik dalam sejarah Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam yang jarang diperhatikan; 12 orang yang menerima Islam dan berjanji berbaiat kepada Nabi pada Baiat Aqabah Pertama adalah para pemuda. Saat itu, yang tertua adalah Asad bin Zurarah. Pada waktu itu dirinya baru berusia 21 tahun, sedangkan usia yang lain masih di bawahnya. Pemuda-pemuda potensial ini, ternyata di kemudian hari menjadi cikal bakal komunitas sahabat bergelar Anshar yang menyambut Muhajirin. Bahkan sebelum Baiat Aqabah I dan II berlangsung, ada Iyas bin Mu’adz (asal Madinah) yang dengan segera menerima dakwah Islam di usianya yang relatif muda.

Kedua, menyediakan sarana efektif untuk pemberdayaan pemuda. Di antara bentuk konkretnya adalah melalui media pendidikan. Sebagai contoh, pasca pertempuran Badar, beliau mempunyai ide strategis berupa ‘penghapusan buta huruf’. Para tawanan Badar yang tak mampu menebus diri (kerena miskin) akan dibebaskan jika mampu mengajari baca tulis sepuluh dari anak-anak Muslim (Raudhatu al-Anfi, al-Suhaili, III/135). Ide ini betul-betul cemerlang untuk mendidik kader-kader dakwah muda.

Di samping itu ada masjid yang di samping sebagai tempat ibadah, serambinya juga menjadi tempat pengembangan pendidikan, yang kemudian dinamakan Shuffah. Masjid ini sepanjang hidup Nabi menjadi pusat pergerakan dan pendidikan yang salah satu tujuannya adalah menelorkan pemuda-pemuda brilian untuk dakwah Islam. Usaha tersebut ternyata begitu efektif dalam melejitkan potensi pemuda. Salah satu sahabat jebolan pendidikan serambi Masjid adalah Abu Hurairah yang dalam catatan Dr. Mahmud Thahan, beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan Hadits. Jumlahnya yang diriwayatkan mencapai 5374 hadits (Taisir Mushthalah al-Hadits, 244).

Ketiga, mengambangkan potensi-potensi pemuda. Di antara contoh, yang dikembangkan potensinya oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam adalah Ali bin Abi Thalib. Bidikan ini memang sama sekali tidak meleset. Peran bapak Hasan dan Husain ini untuk kepentingan Islam, sepanjang hidupnya begitu signifikan. Bahkan ketika usianya masih sangat muda, ia sudah berani mengambil risiko besar. Walau ancamannya nyawa (dengan menggantikan posisi tidur Nabi saat hijrah) akan dia lakoni.

Selain Ali bin Abi Thalib, ada Usamah bin Zaid (18 tahun) yang diutus menjadi panglima perang dalam ekspedisi militer ke negeri Syam (wilayah subordinasi Romawi); demikian juga Mu`adz bin `Amru bin al-Jamuh, serta Mu`awwidz bin al-`Afrā, meski umurnya baru sekitar 15-16 tahun (seumuran anak SMP). Karena memilikikecakapan militer, mereka pun diperbolehkan berpartisipasi dalam medan jihad; di samping itu ada Zaid bin Tsabit –meski ditolak ikut serta dalam perang Badar- dirinya diketahui mempunyai potensi besar dalam bidang keilmuan, sehingga dianjurkan Nabi, untuk mempelajari bahasa asing, dan kelak menjadi penulis wahyu.

Contoh menarik lain yang bisa diangkat dalam tulisan ini ialah: pada perang Uhud, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam membolehkan Samurah bin Jundab dan Rafi’ bin Khudaij (ketika itu masih berusia 15 tahun) untuk berpartisipasi dalam medan jihad. Sedangkan pemuda lain yang antusias berjihad dan belum diizinkan Rasul adalah Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, Barra’ bin ‘Azib, Amru bin Hazm, Usaid bin Khudair. Kemudian mereka baru diizinkan pada pertempuran Khandaq.

Dari pembahasan ini, dapat disimpulkan bahwa interaksi dan perhatian Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam dengan pemuda sangatlah intensif. Selain itu, bukti konkretnya bisa dilihat –paling tidak- pada tiga poin, yaitu dengan: membidik pemuda potensial, menyediakan sarana penunjang dan mengembangkan potensi pemuda. Dengan begitu, potensi mereka tidak sia-sia dan sepeninggal beliau mereka terbukti menjadi kader-kader militan Islam yang berkontribusi besar pada peradaban dunia. Semua itu –atas izin Allah- adalah buah dari ‘tangan dingin’ Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam. Wallahu a’lam,

Oleh: Mahmud Budi Setiawan
Sumber: Majalah Donatur Al Falah edisi 356 November 2017 yang diterbitkan oleh YAYASAN DANA SOSIAL AL FALAH

Rahmadi

Rahmadi

kontributor, karyawan swasta, penerjemah freelance
share on: