Dakwah itu Menebarkan Cinta dan Menerima

*sebuah catatan ringan dari Mukernas Forjim di Mataram.

Siapapun yang memandang dengan bashirah, pasti sepakat bahwa dakwah adalah soal mengikat hati. Hati yang saling bersatu karena cinta pada Allah, akan menafikan apapun warna baju.

“Kami sudah kibarkan bendera putih, sudah mau bergabung dan membaur, tolong jangan diserang lagi,” kata seorang al akh dari “salafi” -begitu sebagian orang melabeli- dalam sebuah obrolan ringan di kota Mataram.

Dua hari mengikuti kegiatan Forum Jurnalis Muslim (Forjim), dia mengaku takjub. Forjim amat cair, tak kaku. Persoalan beda pendapat soal remeh dan remah seolah sudah selesai, di Forjim yang ada hanya ukhuwah.

Kami berhimpun untuk beramal, bukan untuk mengekang dan melanggengkan perbedaan, karenanya apapun asal warnanya bisa menjadi satu tanpa melebur.

Di Forjim ada yang berambut gondrong, dan tak sedikit yang berjenggot gondrong, banyak yg bercelana di atas mata kaki dan ada juga yang celananya di bawah mata kaki. Ada yang berasal dari berbagai harakah, ada juga “jamaah insilah” ๐Ÿ˜

Berbagai wartawan muslim dari media Islam dan media umum bergabung untuk sama berjuang kendati berbeda platform.

Dalam beberapa hal, kami memang tak selalu sepaham. Tapi kaidah Syaikh Rasyid Ridho yang dipopulerkan oleh Imam Hasan Al Banna seolah menjadi pegangan:

ู†ุชุนุงูˆู† ุนู„ู‰ ู…ุง ู†ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡ , ูˆูŠุนุฐุฑ ุจุนุถู†ุง ุจุนุถุง ููŠู…ุง ู†ุฎุชู„ู ููŠู‡

โ€œKita tolong-menolong atas apa yang kita sepakati dan saling memaafkan dalam hal yang kita perselisihkan.”

Ah indahnya, bukankah itu yang selama ini dirindukan? Persatuan yang bukan basa-basi. Mengikis ego dan berusaha menghadirkan solusi.

Tak berlebihan jika banyak orang menaruh harapan, termasuk Tuan Guru Bajang M Zainul Majdi yang berkenan membuka Mukernas Forjim di Mataram.

“Saya membayangkan, jurnalis-jurnalis muslim ini dapat menjadi besar dan mewarnai kehidupan berbangsa kita. Dengan sumberdaya yang ada itu insya Allah niscaya. Jurnalis muslim harus dapat memberikan solusi bagi persoalan yang dihadapi Indonesia,” katanya.

(DST)

*

Rahmadi

Rahmadi

kontributor, karyawan swasta, penerjemah freelance
share on: